Feb 13, 2011

Kesabaran Bu Khairiyah Menghadapi Kehilangan Empat Nyawa

Hidup ini memang ujian. Seperti apa pun warna hidup yang Allah berikan kepada seorang hamba, tak luput dari yang namanya ujian. Bersabarkah sang hamba, atau menjadi kufur dan durhaka.

Dari sudut pandang teori, semua orang yang beriman mengakui itu. Sangat memahami bahwa susah dan senang itu sebagai ujian. Tapi, bagaimana jika ujian itu berwujud dalam kehidupan nyata. Mampukah?
Hal itulah yang pernah dialami Bu Khairiyah. Semua diawali pada tahun 1992.

Waktu itu, Allah mempertemukan jodoh Khairiyah dengan seorang pemuda yang belum ia kenal. Perjodohan itu berlangsung melalui sang kakak yang prihatin dengan adiknya yang belum juga menikah. Padahal usianya sudah nyaris tiga puluh tahun.


Bagi Khairiyah, pernikahan merupakan pintu ibadah yang di dalamnya begitu banyak amal ibadah yang bisa ia raih. Karena itulah, ia tidak mau mengawali pintu itu dengan sesuatu yang tidak diridhai Allah.

Ia sengaja memilih pinangan melalui sang kakak karena dengan cara belum mengenal calon itu bisa lebih menjaga keikhlasan untuk memasuki jenjang pernikahan. Dan berlangsunglah pernikahan yang tidak dihadiri ibu dan ayah Khairiyah. Karena, keduanya memang sudah lama dipanggil Allah ketika Khairiyah masih sangat belia.

Hari-hari berumah tangga pun dilalui Khairiyah dengan penuh bahagia. Walau sang suami hanya seorang sopir di sebuah perusahaan pariwisata, ia merasa cukup dengan yang ada.
Keberkahan di rumah tangga Khairiyah pun mulai tampak. Tanpa ada jeda lagi, Khairiyah langsung hamil. Ia dan sang suami pun begitu bahagia. "Nggak lama lagi, kita punya momongan, Bang!" ujarnya kepada sang suami.

Mulailah hari-hari ngidam yang merepotkan pasangan baru ini. Tapi buat Khairiyah, semuanya berlalu begitu menyenangkan.

Dan, yang ditunggu pun datang. Bayi pertama Bu Khairiyah lahir. Ada kebahagiaan, tapi ada juga kekhawatiran.

Mungkin, inilah kekhawatiran pertama untuk pasangan ini. Dari sinilah, ujian berat itu mulai bergulir.
Dokter menyatakan bahwa bayi pertama Bu Khairiyah prematur. Sang bayi lahir di usia kandungan enam bulan. Ia bernama Dina.

Walau dokter mengizinkan Dina pulang bersama ibunya, tapi harus terus berobat jalan. Dan tentu saja, urusan biaya menjadi tak terelakkan untuk seorang suami Bu Khairiyah yang hanya sopir.

Setidaknya, dua kali sepekan Bu Khairiyah dan suami mondar-mandir ke dokter untuk periksa Dina. Kadang karena kesibukan suami, Bu Khairiyah mengantar Dina sendirian.

Beberapa bulan kemudian, Allah memberikan kabar gembira kepada Bu Khairiyah. Ia hamil untuk anak yang kedua.

Bagi Bu Khairiyah, harapan akan hiburan dari anak kedua mulai berbunga. Biarlah anak pertama yang menjadi ujian, anak kedua akan menjadi pelipur lara. Begitulah kira-kira angan-angan Bu Khairiyah dan suami.

Dengan izin Allah, anak kedua Bu Khairiyah lahir dengan selamat. Bayi itu pun mempunyai nama Nisa. Lahir di saat sang kakak baru berusia satu tahun. Dan lahir, saat sang kakak masih tetap tergolek layaknya pasien berpenyakit dalam. Tidak bisa bicara dan merespon. Bahkan, merangkak dan duduk pun belum mampu. Suatu ketidaklaziman untuk usia bayi satu tahun.

Beberapa minggu berlalu setelah letih dan repotnya Bu Khairiyah menghadapi kelahiran. Allah memberikan tambahan ujian kedua buat Bu Khairiyah dan suami. Anak keduanya, Nisa, mengalami penyakit aneh yang belum terdeteksi ilmu kedokteran. Sering panas dan kejang, kemudian normal seperti tidak terjadi apa-apa. Begitu seterusnya.

Hingga di usia enam bulan pun, Nisa belum menunjukkan perkembangan normal layaknya seorang bayi. Ia mirip kakaknya yang tetap saja tergolek di pembaringan. Jadilah Bu Khairiyah dan suami kembali mondar-mandir ke dokter dengan dua anak sekaligus.

Di usia enam bulan Nisa, Allah memberikan kabar gembira untuk yang ketiga kalinya buat Bu Khairiyah dan suami. Ternyata, Bu Khairiyah hamil.

Belum lagi anak keduanya genap satu tahun, anak ketiga Bu Khairiyah lahir. Saat itu, harapan kedatangan sang pelipur lara kembali muncul. Dan anak ketiganya itu bayi laki-laki. Namanya, Fahri.

Mulailah hari-hari sangat merepotkan dilakoni Bu Khairiyah. Bayangkan, dua anaknya belum terlihat tanda-tanda kesembuhan, bayi ketiga pun ikut menyita perhatian sang ibu.

Tapi, kerepotan itu masih terus tertutupi oleh harapan Bu Khairiyah dengan hadirnya penghibur Fahri yang mulai berusia satu bulan.

Sayangnya, Allah berkehendak lain. Apa yang diangankan Bu Khairiyah sama sekali tidak cocok dengan apa yang Allah inginkan. Fahri, menghidap penyakit yang mirip kakak-kakaknya. Ia seperti menderita kelumpuhan.

Jadilah, tiga bayi yang tidak berdaya menutup seluruh celah waktu dan biaya Bu Khairiyah dan suami. Hampir semua barang berharga ia jual untuk berobat. Mulai dokter, tukang urut, herbal, dan lain-lain. Tetap saja, perubahan belum nampak di anak-anak Bu Khairiyah.

Justru, perubahan muncul pada suami tercinta. Karena sering kerja lembur dan kurang istirahat, suami Bu Khairiyah tiba-tiba sakit berat. Perutnya buncit, dan hampir seluruh kulitnya berwarna kuning.

Hanya sekitar sepuluh jam dalam perawatan rumah sakit, sang suami meninggal dunia. September tahun 2001 itu, menjadi titik baru perjalanan Bu Khairiyah dengan cobaan baru yang lebih kompleks dari sebelumnya. Dan, tinggallah sang ibu menghadapi rumitnya kehidupan bersama tiga balita yang sakit, tetap tergolek, dan belum memperlihatkan tanda-tanda kesembuhan.

Tiga bulan setelah kematian suami, Allah menguji Bu Khairiyah dengan sesuatu yang pernah ia alami sebelumnya. Fahri, si bungsu, ikut pergi untuk selamanya.

Kadang Bu Khairiyah tercenung dengan apa yang ia lalui. Ada sesuatu yang hampir tak pernah luput dari hidupnya, air mata.

Selama sembilan tahun mengarungi rumah tangga, air mata seperti tak pernah berhenti menitik di kedua kelopak mata ibu yang lulusan 'aliyah ini. Semakin banyak sanak kerabat berkunjung dengan maksud menyudahi tetesan air mata itu, kian banyak air matanya mengalir. Zikir dan istighfar terus terucap bersamaan tetesan air mata itu.

Bu Khairiyah berusaha untuk berdiri sendiri tanpa menanti belas kasihan tetangga dan sanak kerabat. Di sela-sela kesibukan mengurus dua anaknya yang masih tetap tergolek, ia berdagang makanan. Ada nasi uduk, pisang goreng, bakwan, dan lain-lain.

Pada bulan Juni 2002, Allah kembali memberikan cobaan yang mungkin menjadi klimaks dari cobaan-cobaan sebelumnya.

Pada tanggal 5 Juni 2002, Allah memanggil Nisa untuk meninggalkan dunia buat selamanya. Bu Khairiyah menangis. Keluarga besar pun berduka. Mereka mengurus dan mengantar Nisa pergi untuk selamanya.

Entah kenapa, hampir tak satu pun sanak keluarga Bu Khairiyah yang ingin kembali ke rumah masing-masing. Mereka seperti ingin menemani Khairiyah untuk hal lain yang belum mereka ketahui.

Benar saja, dua hari setelah kematian Nisa, Nida pun menyusul. Padahal, tenda dan bangku untuk sanak kerabat yang datang di kematian Nisa belum lagi dirapikan.

Inilah puncak dari ujian Allah yang dialami Bu Khairiyah sejak pernikahannya.

Satu per satu, orang-orang yang sebelumnya tak ada dalam hidupnya, pergi untuk selamanya. Orang-orang yang begitu ia cintai. Dan akhirnya menjadi orang-orang yang harus ia lupai.

Kalau hanya sekadar air mata yang ia perlihatkan, nilai cintanya kepada orang-orang yang pernah bersamanya seperti tak punya nilai apa-apa.

Hanya ada satu sikap yang ingin ia perlihatkan agar semuanya bisa bernilai tinggi. Yaitu, sabar. "Insya Allah, semua itu menjadi tabungan saya buat tiket ke surga," ucap Bu Khairiyah kepada Eramuslim.


Story and Photo by www.eramuslim.com

Anni Iwasaki : Emansipasi Wanita Indonesia Salah Kaprah

Kutipan wawancara Anni Iwasaki oleh Dr. Dito Anurogo (Netsains.com)

Menjadi penulis, ibu rumah tangga, dengan segudang aktivitas di negeri Sakura, memang memerlukan kelebihan tersendiri. Anni Iwasaki dapat dikatakan sebagai sosok ibu super. Berikut wawancara eksklusif kami dengan ibu Anni.

Dito Anurogo (DA): Sebenarnya, apa sih cita-cita Ibu sejak kecil?
Anni Iwasaki (AI): Menjadi orang kaya.

DA : Boleh tahu siapa (saja) tokoh Idola Ibu?
Tidak punya. Kami dari keluarga petani desa. Dari keluarga besar hanya ibu saya yang keluar dari Prambon.
Harusnya idola saya adalah kedua orang tua saya, namun, keduanya bercerai sebelum saya memahami arti kehidupan berkeluarga.

DA : Boleh kami mengetahui pengalaman apa saja di masa kecil, remaja, dewasa Ibu yang begitu berkesan, menempa, dan mengandung hikmah? (Silakan diceritakan beberapa secara singkat dan memikat)
AI: Kami tinggal di Surabaya. Setiap liburan puasa saya dan mbakyu saya sebulan penuh ke desa Prambon, Kediri, berlibur di rumah bude dan bergantian menginap di tujuh saudara/i ibu. Rumah mereka saling berdekatan begitu juga nenek, sebagai god mother-nya hahahaaa. Kakek sudah meninggal sebelum saya lahir.
Bulan puasa nenek banyak mengadakan selamatan, bisa dibilang dapurnya ngepul terus dan yang rewang banyak sekali sampai menginap. Kue banyak, makanan banyak. Dari daerah sekitar banyak saudara/i dan putra/inya sebaya dengan saya juga turut berdatangan. Yang saya takuti kehidupan desa dimalam hari, gelap. Dan tidak saya sukai adalah toiletnya jauh ditengah kebon.

Ketika mulai menginjak sekolah menengah pertama, terjadi peralihan kekuasaan dari Presiden Soekarno ke Presiden Soeharto, kehidupan di desa sangat mencekam, bahkan saudara/i ibu berdatangan mengungsi kerumah kami di Surabaya. Saya juga turut demo-demo.

Sejak saat itu saya lebih suka meluangkan waktu dengan teman-teman saya di Surabaya. Mulai berpikir hak-hak politik, cita-cita, sukses, masa depan dan memilih hidup di kota. Ketika di sekolah menengah atas saya mengambil jurusan sos-pol.

Sebulan setelah menikah saya diboyong ke Tokyo. Selang tiga bulan saya mengandung. Kelahiran putra pertama saya, menghentikan seluruh aktivitas di luar apartemen mempelajari bahasa Jepang.

Hidup berkeluarga di Jepang dengan pria Jepang dalam sistim pemerintahan dan menjadi bagian masyarakat ilmiah Jepang yang sadar akan hak dan kewajiban politik (berdasarkan undang-undang). Mengantarkan saya kepada titik balik “kodrat”, dalam bahasa akademik disebut ”hakiki”. Dari bercita-cita menjadi pencari nafkah, menjadi ibu manusia Jepang melaksanakan fungsi generasi-regenerasi.

Sekaligus dalam struktur sosial-ekonomi saya adalah pendaya guna nafkah keluarga (menejer dan konsumen sekaligus menerbitkan demand).

Sebulan setelah menikah saya diboyong ke Tokyo. Selang tiga bulan saya mengandung. Kelahiran putra pertama saya menghentikan seluruh aktivitas di luar apartemen ingin melanjutkan kuliah di negeri ini.

Sejak persiapan menyongsong kehamilan saya yang pertama hinggá kelahiran ketiga putra kami, saya dan suami semakin merasakan dan menyadari nilai kebersamaan, bukan berarti renteng-renteng kemana-mana selalu berdua, melainkan secara spiritually, setiap detik rasa tentram dan nyaman dapat melahirkan rasa aman dan trust kepada ketiga janin kami dengan demikian lebih mudah menumbuh kembangkan jiwa manusiawi.
Kami berdua bertekad harus berhasil menjadi ayah-ibu yang lebih baik dari generasi sebelumnya. Tidak ada alasan gagal, karena pemerintah Jepang melaksanakan kewajiban dengan baik menyiapkan sarana dan prasarana hidup berkeluarga, jaminan kesejahteraan sosial dan jaminan hidup dihari tua hingga kemudahan-kemudahan hidup apabila keadaan darurat menimpa.

Tentang emansipasi wanita model Indonesia. Selama sekolah di Indonesia hinggá lulus sekolah menengah atas. Saya belum pernah diajarkan dikelas membaca surat-surat Kartini, bahkan sampul bukunyapun saya belum pernah melihat. Emansipasi RA Kartini yang dilekatkan dalam batok kepala saya disetiap hari Kartini ketika itu, adalah, “wanita bukan lagi konco wingking emansipasi adalah saatnya wanita tidak boleh kalah dengan pria”.

Mengusik saya untuk membedah lalu menggugat Pahlawan Nasional RA Kartini.

Ketika suami bertugas ke Jakarta, salah satu buku yang saya pesan adalah Habis Gelap Terbitlah Terang. Semalam saja buku itu saya baca habis. Saya langsung menangis berkelanjutan hingga berhari-hari, ternyata jalan hidup yang sekarang saya jalani inilah cita-cita RA Kartini dalam upayanya membangun bangsa. ”Betapa kejamnya orang-orang yang menyelewengkan cita-cita dan mempermainkan arwah Pahlawan Nasional itu. Dan sekaligus mempermainkan masa depan generasi muda termasuk hidup saya ....”

Dalam surat-surat RA Kartini itu saya temukan: tersebut dua perempuan yang hak-haknya diperjuangkan oleh Kartini yaitu: perempuan sebagai gadis dan perempuan sebagai ibu.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia/KBBI gadis: anak perempuan yang sudah akil-baliq belum kawin. Ibu: perempuan yang telah melahirkan anak.

Gagasan Kartini tentang perempuan akil baliq belum kawin , ”...tentang anak gadis yang bebas, yang berdiri sendiri, mencari rezekinya” (31 Des 1901, Nyonya Abendanon).

Gagasan Kartini tentang perempuan yang memilih menjadi ibu: ”Kami di sini meminta, ya memohonkan, meminta dengan sangatnya supaya diusahakan pengajaran dan pendidikan anak-anak perempuan, bukanlah sekali-kali karena kami hendak menjadikan anak-anak perempuan itu saingan orang laki-laki dalam perjuangan hidup ini, melainkan karena kami,-oleh sebab sangat yakin akan besar pengaruh yang mungkin datang dari kaum perempuan –hendak menjadikan perempuan itu lebih cakap melakukan kewajibannya , kewajiban yang diserahkan oleh Alam sendiri ke dalam tangannya; menjadi ibu-pendidik manusia yang pertama-tama.

Dalam teori akademik-universal psikologi pengembangan, pendidikan anak sejak dini adalah tiga tahun pertama kehidupan seorang anak. Yang disebut golden ages bahasa Jepangnya adalah mitsuno tamashi hyaku made – kehidupan tiga tahun pertama adalah menentukan kehidupan selanjutnya.

Setelah membaca kumpulan surat itu, saya mengerti penyebab RA Kartini berkali-kali hendak diturunkan dari kePahlawanan Nasional-nya.

Dalam masa peralihan ke pemerintahan RI dari orde lama kepada orde baru pro barat plus Jepang, investor dari negeri-negeri itu bagaikan air bah mengalir ke Indonesia. Namun disambut oleh demo-demo dari para pekerja , disini saya ingatkan bahwa yang demo itu adalah para bapak. Marak meminta hak-hak pekerja dan pembayaran lebih baik terutama yang bekerja di pabrik-pabrik.

Rupanya pemerintah menggantikan para bapak dengan cara mendorong para ibu rumah tangga memasuki lapangan kerja khususnya di pabrik-pabrik adalah solusi pemerintah agar para investor tidak ketakutan menancapkan usahanya di negeri ini.

Dan idiologi Pahlawan Pergerakan Nasional RA Kartini dianggap menghalangi mobilisasi ibu rumah tangga memasuki lapangan kerja menggantikan para bapak.

Pemerintah sekaligus menikmati ’multiflier-effect’nya: mendapat pajak pendapatan penambah kas negara. Sekaligus dengan gaji itu mobilisasi para ibu rumah tangga dapat membuka lapangan pekerjaaan tempat penitipan anak, play grup dan semacamnya. Sekaligus membuka ’lapangan pekerjaan’ untuk golongan lemah menjadi pesuruh rumah tangga di keluarga-keluarga yang ibunya bergiat dan bekerja diluar rumah dari kegiatan Dharma Wanita, pengusaha wanita, karyawati hingga buruh-buruh wanita di pabrik-pabrik.

Sekaligus pula dengan sisa gajinya dapat membeli barang-barang yang diimpor secara legal atau selundupan yang paling ngetren saat itu adalah kosmetik masuk ke pasar hingga ke desa-desa.

DA : Bagaimana cara Ibu mengharmoniskan antara karir dengan keluarga?
AI: Setelah saya jalani akhirnya saya menyadari bahwa fungsi dan peranan saya sebagai ibu rumah tangga adalah karir yang sesungguhnya (KBBI karir: memajukan kehidupan). Maka karir saya adalah sebagai istri dan ibu. Dari situ saya memperoleh tunjangan dan fasilitas hidup bersama suami dan anak-anak. Dan saya harus berhasil membangun keluarga sesuai dengan fungsi hidup yang telah saya pilih. Aktivitas diluar itu tidak wajib, saya kerjakan saya peroleh kepuasan batin, tidak saya kerjakan saya tidak memendam rasa bersalah.

Di Jepang semua wanita menikah menjadi ibu rumah tangga di keluarganya masing-masing. Disana tidak ada pesuruh rumah tangga seperti di Indonesia. Tiga puluh enam tahun yang lalu, di Jepang, kami telah menjalankan pekerjaan seharí-hari memasak dengan pengetahuan keseimbangan gizi yang selalu up-date, membesarkan anak berdasarkan pengetahuan pisik, psikis, sosial dan spiritual terutama psikologi pengembangan yang selalu up-date.

Menyelesaikan pekerjaan sehari-hari mengoperasikan teknologi seperti mesin cuci piring, mesin cuci baju dan mesin pengering baju dlsb. Tidak ada istilah gaji suami yang ada adalah gaji keluarga. ATM sudah ada, dari mesin ATM ibu rumah tangga Jepang langsung mengelola gaji keluarga untuk biaya hidup sehari-hari.
Umumnya ibu rumah tangga di Jepang punya hobi seperti bermain golf, tenis, melukis, berwisata atau kegiatan lain.

Nah, untuk saya kegiatan itu adalah : mengamati, menulis dan bergiat di FPC Jepang (Foreign Press Centre) di Tokyo. Aktivitas saya ini bukan kegiatan saya berperan ganda sebagai wanita-karir atau wanita-pekerja yang memperoleh gaji dari pekerjaan itu. Melainkan bagian dari tugas saya sebagai ibu manusia yang harus selalu kritis dan aktif meluruskan jalannya pemerintahan dan turut mengantisipasi instabilitas global. Sebagai warga negara Indonesia aktivitas saya di luar ini bisa jadi lebih banyak sampai masuk ke FPC segala, karena saya berkeinginan Indonesia maju jika bisa, ya lebih baik dari Jepang. ^^

Kegiatan saya menulis baru saya mulai saat putra bungsu saya masuk taman kanak-kanak. Dan kegiatan diluar rumah selain urusan rt-rw , sekolah dan pendidikan ekstra kurikuler anak-anak, saya mulai ketika putra bungsu saya masuk sekolah menengah pertama. Dananya dari uang saku saya sendiri.

Dengan begitu saya tidak perlu dikejar atau mengejar target bahkan bisa memilih. Saya hanya meliput event yang ada kaitannya dengan visi-misi yang sedang saya tekuni. Yaitu mendalami seluk beluk sistem pemerintahan demokrasi-monarkhi Jepang sebagai fasilitator, stabilisator dan dinamisator mensejahterakan kehidupan rakyatnya. Sekaligus dalam acara jumpa pers saya langsung bisa mengamati body-language para aktor Jepang dan dunia yang keluar-masuk Tokyo.
DA : Boleh tahu pesan moral dan inti dari buku: “Mahligai Perkawinan” dan ”Dinamika Kehidupan”?
AI: Manalah ketika saya seusia itu berpikir pesan moral atau apapun tentang visi, misi maupun program kerja ? Saya ingin bercerita, punya cerita ya berceritalah melalui tulisan.

Seperti yang saya ceritakan di atas di Indonesia emansipasi mengeluarkan para ibu rumah tangga dari fungsi domestiknya saat itu sedang menjadi gerakan nasional. Undang Undang Pernikahan RI I Thn 1974 menjadi kontroversial dan tidak berdaya membendung arus emansipasi salah kaprah akibat adanya ambigu pemerintah tentang hakikat emansipasi itu.

Yang dijadikan kontroversial adalah Bab VI Hak Dan Kewajiban Suami-isteri Pasal 31 (3) Suami adalah kepala keluarga dan isteri ibu rumah tangga.

Banyak wanita pekerja, apalagi yang menduduki jabatan penting tidak setuju jika suami dijadikan kepala keluarga. Padahal sebetulnya yang dibidik adalah Pasal 34 (2) Isteri wajib mengatur urusan rumah- tangga sebaik-baiknya. Arti pasal yang terakhir ini adalah isteri tidak hak menduduki lapangan kerja.

Sekolah Kepandaian Putri rintisan para Pahlawan Nasional seperti Cut Meutia, Nyi Ahmad Dahlan, Maria Walanda Maramis, RA Kartini, R Dewi Sartika pun di bubarkan.

Fiksi saya yang pertama Mahligai Perkawinan ketika di muat sebagai novelet bersambung pertama di dunia , ini adalah istilahnya novelis kondang Ris Prasetyo, di majalah Kartini tahun 1986-87 dengan judul Dialog Panjang. Karena banyak mendapat respon berupa surat pembaca, Redaktur Pelaksana saat itu Pak (Alm) Roejito SK meminta saya agar menyambungnya. Jadilah Dialog Panjang II dan III padahal terbitan pertama dituliskan Dialog Panjang saja tanpa angka I.

Isinya adalah ”intropeksi” diri seorang ibu rumah tangga yang memiliki ibu mertua berpendidikan Belanda ekonomi golongan atas. Kan berbeda itu dengan kehidupan keluarga umumnya orang Indonesia. Keluarga tinggalan Belanda, punya disiplin tinggi selayaknya kami di Jepang. Setting di Jakarta.

Sedangkan Dinamika Kehidupan, adalah perjuangan membangun keluarga dari pernikahan pria Jepang-wanita Indonesia yang tidak pernah bercita-cita ”hanya” menjadi ibu rumah tangga. Settingannya di Tokyo dan di negara Kuwait.

Keduanya memberikan motivasi dan kiat-kiat praktis mulai dari dasar pemikiran hingga kepada praktik sehari-hari. Saya tujukan kepada para pembaca di Indonesia khususnya kaum wanita yang tetap teguh dan berkeinginan menjadi ibu rumah tangga dan berhasil.

DA : Apa yang melatarbelakangi (behind the scene) kedua karya itu?
AI: Salah satu upaya meluruskan bahwa emansipasi bukan merubah fungsi hidup seorang ibu rumah tangga menjadi pencari nafkah keluarga dengan meninggalkan putra/inya yang masih kecil bersama, neneknya, pesuruh rumah tangga maupun suster.

Emansipasi seharusnya memajukan pengetahuan dan ketrampilan ibu rumah tangga kepada profesionalisme dalam tata-kelola kehidupan berkeluarga. Jika tunjangan untuk istri kurang besar ya tuntut pemerintah untuk menambahnya.

DA : Dari mana ide tentang kedua buku ini bermula?
AI: Dari banyaknya perjalanan yang saya lakukan dan menetap di berbagai negara maju dan di negara berkembang-terpuruk. Lalu membuat komparasi tentang peranan ibu rumah tangga dalam pembangunan karakter bangsa sejak dini. Sekaligus sebagai pendaya guna kekayaan bangsa berupa gaji keluarga yang dibawa pulang oleh suami setiap bulan.

Ibu-ibu rumah tangga dari Jepang, Eropa, AS, Australia sangat sigap dan perhitungan dibandingkan dengan ibu-ibu dari negara berkembang seperti dari India, Arab, Asia Tenggara, Amerika Selatan yang memiliki pesuruh rumah tangga. Yang saya sebut terakhir ini memang terlihat lebih sibuk karena peran gandanya itu, namun ternyata sedikit sekali manfaat yang dihasilkannya.

DA : Bagaimana cara Ibu memadukan seni jurnalistik, politik, pendidikan, dunia anak, dsb?
AI: Aktivitas sehari-hari ibu rumah tangga (irt) di Jepang mencakup aktivitas semua itu. Jurnalistik, penghubung jalinan jiwa melalui komunikasi menyenangkan antara ayah dan ketiga putra kami yang jarang bertemu. Saya memberi informasi kepada ayahnya tentang topik-topik pembicaraan dan seberapa banyak perbendaharaan kata yang disukai dan dimiliki oleh ketiga putra kami. Begitu pula sebaliknya. Politik, kami adalah pelaksana kehidupan domestik pengembang sain pembangunan generasi dan regenerasi, irt Jepang adalah home maker.

Saya sebut “kami” di Jepang ini ada sekitar 40 jutaan ibu rumah tangga dan bisa dibilang semuanya bergerak kearah yang sama. Pendidikan, ibu rumah tangga Jepang bertugas mengembangkan karakter anak-anak hingga usia 18 tahun sedangkan guru-guru disekolah membangun kecerdasan. Komunikasi dua arah sangat intens. Saya pernah menjabat ketua Parents-Teachers Asc (PTA) ketika putra bungsu saya duduk di sekolah dasar .

Dunia anak-anak, saya ketahui ketika membesarkan putra-putra kami. Saya langsung terjun ke dalam dunia mereka kemudian perlahan namun pasti secara bertahap saya perkenalkan anak-anak dengan dunia kami dan membimbingnya masuk.

Penulisan jurnalistik sekaligus adalah wahana dan sarana saya mempublikasikan pengetahuan dan gagasan-gagasan kepada semua kalangan pembaca di Indonesia secara top-down dan bottom up.

DA : Boleh diceritakan tentang ASKB/RSSUKB? Dan dari manakah ide ini bermula? (Pengertian, Visi, misi, strategi pelaksanaannya, tantangan, hambatan, dsb)
AI: Tentu. Sejak tahun 1961 seluruh keluarga Jepang mampu tinggal di kediaman masing-masing, baik itu-beli kredit atau menyewa. Di Jepang terdapat banyak standar permukiman layak untuk masing-masing strata keluarga, harga beli dan sewa terjangkau. Pemerintah menyediakan pula permukiman untuk golongan lemah.
Pemerintah Jepang memiliki kawasan permukiman sewa terpadu untuk keluarga muda, harga sewanya disesuaikan dengan gaji keluarga dan jumlah anak yang dimiliki. Jadi tidak memberatkan generasi muda yang baru berumah tangga. Kewajiban pemerintah Jepang sebagai fasilitator dan stabilisator character building sejak dini terwujud. Inovasi kualitas dan kuantitas adalah dinamisasi.

Mau beli kredit rumah atau seumur hidup mau menyewa, pemerintah punya stocknya.

Membeli tempat tinggal yang dibangun oleh swasta adalah pilihan terakhir. Di Jepang ini milik pemerintah lebih baik (fungsional) daripada milik swasta.

Setelah saya menikah , berturut-turut saudara/i saya menikah. Mbakyu saya dan adik-adik berhasil menyelesaikan kuliah, meskipun suami- isteri juga sarjana, di Indonesia tidak ada budaya menyewa melainkan mengontrak rumah membayar sekaligus setahun atau dua tahun, gaji mereka berdua tentu tidak cukup.
Solusinya adalah berdesak-desakkanlah tinggal bersama ibu kami atau berpindah beberapa saat ke rumah mertua menghindari ketegangan-ketegangan berkeluarga yang kemudian bermunculan.
Saya merasa beruntung berkeluarga di Jepang karena fasilitas tempat tinggal yang baik itu. Dan merasa lega pula, bahwasanya kelak putra-putra saya menikah saya tidak perlu memikirkan atau bahkan membelikan rumah untuk mereka. Hari tua kami bisa seperti para ayah-ibu Jepang yang putri/anya sudah mentas, saving nya dinikmati berdua dihari tua.

Semua ini sekarang menjadi kenyataan^^

Tahun 1985 saya mulai meluncurkan kiat-kiat membangun keluarga inspirasi dari Jepang sebagai, roh yang akan mendiami kawasan permukiman itu. Melalui penulisan, esai, feature perjalanan, cerpen, novel dan diwawancarai melalui telpon atau tertulis ke Tokyo. Bahkan menjadi cover story oleh banyak majalah dan muncul di halaman pertama beberapa koran Jakarta dan daerah.

Gongnya pada akhir tahun 1993 terbit wawancara saya dengan harian Kompas Jakarta, Anni Iwasaki ”Jepang Maju Karena Tidak Banyak Wanita Karir” Hasil wawancara itu menyentak nusantara khususnya para penganut emansipasi salah kaprah itu dari Sabang-Merauke (sebutannya saat itu kini Papua ). Sekaligus memberikan semangat kepada para ibu Indonesia yang konsisten menjadi ibu rumah tangga.

Sejak saat itu saya didaulat menjadi nara sumber di banyak seminar perguruan tinggi dan media masa. Disaat anak-anak di Jepang liburan sekolah, kami ke Indonesia. Serentetan acara seminar dan diskusi menunggu saya. Sayangnya tidak mendapat perhatian dari jalan Cendana hingga orba lengser.

Dari banyaknya respon positif dari tulisan-tulisan saya bahkan rekan saya di majalah Pertiwi mengatakan belum pernah ada antusias pembaca mengirim surat sebanyak yang saya terima. Hingga ada rekan penulis mengatakan ” Anni Iwasaki nge-bom lagi” ketika tulisan saya dirilis oleh media.

Tahun 1995, gagasan saya tentang rumah susun sewa untuk keluarga baru/RSSUKB saya luncurkan. Saat itu di Indonesia gerakan nasional pembangunan perumnas susun, kredit perumahan rakyat dan pembebasan tanah mulai disinyalir sebagai lahan korupsi.

Kembali saya menjadi nara sumber di seminar-seminar dan kelompok diskusi yang mengundang saya sebelumnya. Putra-putra saya semakin besar, suami jabatan di kantor semakin tinggi. Mereka lebih banyak meluangkan waktu di luar rumah, saya memiliki waktu lebih banyak untuk mempelajari dan menggali sain domestik ini dalam kaitannya dengan globalisasi politik- ekonomi dan sosial-budaya.

Kemudian rumah susun yang dibangun oleh pemerintah Indonesia. Selain kualitas bangunan dan kualitas perencanaan tidak fungsional, ahli permukiman Indonesia belum mengetahui dinamika-sosial penghuni. Merusak image rumah susun yang saya gagas. Maka saya ganti sebutannya menjadi Apartemen Sewa Untuk Keluarga Muda/ASKB. Sekarang saya sebut ”Kawasan Permukiman Sewa Terpadu Pembangunan Karakter Bangsa Sejak Dini Inspirasi Dari Jepang/KPSTPKBSDIDJ).

DA : Bagaimana cara Ibu mengubah paradigma / mindset masyarakat Indonesia yang tadinya belum terbuka hatinya untuk menerima / menerapkan ASKB/RSSUKB?
AI: Saya tidak merubah mindset mereka, melainkan mengenalkan gagasan baru yang lebih baik dan merupakan solusi dari kehidupan sulit yang sedang berlangsung.

Alhamdulillah pula, angka-angka kemajuan Jepang terus meningkat dan saya sendiri mendapatkan bonus berkali lipat sarana dan prasarana hidup yang dibangun semakin baik. Termasuk yang dirasakan oleh putra-putra kami saat ini.

Banyaknya respon positif yang masuk. Implementasinya ya harus langsung ke Presiden, hasil evaluasi sosialisasi saya kirimkan kepada Presiden Soeharto. Kemudian kepada presiden-presiden setelah itu hingga kepada Presiden SBY. Mendapat respon dari Kabinet Gotong-Royong pemerintahan Presiden Megawati, belum keburu tindak-lanjutnya pemerintahan berganti.

DA : Apa visi-misi dan obsesi Ibu setelah berhasil menjadi Presiden Pusjuki?
Gagasan Membangun Masyarakat Indonesia Ilmiah Teknologi dan Industri Green Tech Life Style (GTLS) Inspirasi dari (keberhasilan pembangunan masyarakat sipil) Jepang. Harus berhasil menjadi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN)-Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) Thn 2014-2019 dan berkesinambungan.

DA : Ibu pernah menjadi narasumber sosial budaya, ekonomi, politik diterbitkan oleh majalah Shukan Gendai, Koran persahabatan Jepang-RRC, Radio Tampa Tokyo, Nihon Kezai Shimbun-Nikei-Koran Ekonomi terbesar di dunia, TV Fuji, Siaran satelit TV NHK. Juga berbagai aktivitas lainnya yang begitu padat. Boleh tahu resep/kiat Ibu di dalam menjaga kesehatan?
Seperti yang saya sebut diatas yang utama saya tidak dikejar target dan tidak mengejar target. Dengan begitu saya tidak memendam rasa bersalah. Ibu rumah tangga Jepang tidak berperan ganda kita sangat enjoy life. Gaya hidup tanpa pesuruh rumah tangga, sarana dan prasarana irt yang terus membaik, cukup untuk mengembangkan kebutuhan berkembangnya intelektual dan gerak badan saya sehari-hari. Suami sangat bertanggung jawab memenuhi kebutuhan hidup. Gaya hidup sehat dan pola makan sehat telah menjadi budaya dalam masyarakat Jepang Moderen ini.

Lagi, awal tahun 2010 ini bangsa Jepang memegang rekor tertinggi PBB sebagai bangsa tersejahtera dan memiliki harapan hidup terlama, dan ibu Jepang memegang rekor pemilik harapan hidup terlama dunia.

DA : Boleh tahu rahasia Ibu menguasai banyak hal, menjadi multitalenta, dan menjadi “Supermother” yang multitasking?
Di Jepang pekerjaan ibu rumah itu sendiri adalah sumber inspirasi ilmu pengetahuan pembangunan kualitas dan kuantitas manusia Jepang Modern. Sekaligus sumber inspirasi meningkatkan kualitas dan volume produk domestik Jepang. Sain dan teknologi: dapur, sumur (air) , kasur, manak, masak, macak Jepang adalah industri kualitas nomer satu di dunia.^^

Di Jepang terdapat hampir seratus perguruan tinggi domestik, disana disebut tandai ; kolese wanita junior D3 dan joshii-dai perguruan tinggi wanita 4 tahun.

Sekolah Kepandaian Putri yang telah dibubarkan itu seharusnya berlanjut kepada perguruan wanita sain domestik ini.

Facebook: anni iwasaki.
foto: dokumen pribadi Anni Iwasaki
Curiculum Vitae
Nama Lahir : Chaeriyani
Nama Populer : Anni Iwasaki
Jabatan Hidup: Ibu Rumah Tangga
Kelahiran : Desa Tanjung Tani, Prambon, Kediri, 25 April 1953
Agama : Islam
Kewarganegaraan : Indonesia
Pendidikan :
• SD Sawahan II & SD Simpang II (Berijazah)
• SMP 3 Surabaya (Berijazah)
• SMA Trimurti Surabaya (Selesai tahun 1972);(Berijazah)
• Lembaga Pendidikan Jurnalistik Interstudi Jakarta, 1985 (6Bulan);(Berijazah)
• Pendidikan Bahasa Jepang Kokusai Kaiwa Gakuin-Tokyo, 1992 (2tahun);(Berijazah)
• April 1997 menjadi Mahasiswa pendengar di Fak. Hubungan International ekonomi dan Fakultas Sastra Jepang Universitas Tama, Tokyo (Satu Tahun Kuliah).
• September 25, 2004, dianugerahi Doctor Honoris Causa Oleh Saint John Institute Of Management Science, Houston, Texas, USA.
• Terpilih dalam urutan nomer 2 dalam buku “30 Perempuan Pilihan Wanita Penulis Indonesia” penerbit Zikrul Hakim (Anggauta IKAPI) Jkt. www.zikrul.com. Launching 16 April 2010 di TIM Jakarta.

R. W. Dodo - Direktur Literary Agency Mata Pena Writer

 Kutipan wawancara RW. Widodo oleh Dr. Dito Anurogo (Netsains.com)


Apa beda antara mimpi dan cita-cita di mata Direktur Literary Agency Mata Pena Writer R. W. Dodo? Berikut wawancara ekslusif Netsains.Com dengan lelaki yang bersahaja ini.

Dito: Boleh tahu, apa sebenarnya mimpi atau cita-cita Anda sejak kecil?
Jawab: sebelum menjawab pertanyaan ini, saya mungkin akan membedakan definisi antara mimpi dan cita-cita. Definisi mimpi mungkin lebih dekat dengan hanya keinginan. Yaitu tahap berharap pada sesuatu. Akan tetapi, belum berpijak pada langkah-langkah sistematis dan konkrit untuk mewujudkan harapan itu. Berjalan mengalir saja jika ada kesempatan. Tidak membuat sebuah kesempatan.

Berpijak pada definisi ini, sejatinya dari kecil saya mempunyai banyak mimpi. Pada suatu saat saya dulu ketika SD sering dilombakan di ajang kompetisi menyanyi antar sekolah sekecamatan, saya waktu itu bermimpi suatu saat nanti ketika saya besar, saya berharap akan menjadi seorang penyanyi. Saya senang sekali ketika bernyanyi, penonton akan menyoraki saya, dan setelah usai menyanyi pasti mereka akan menyanjung kemerduan suara saya.

Pada suatu ketika saya diminta membaca puisi oleh guru Bahasa Indonesia di depan kelas, dan berhasil membuat seisi ruangan terpaku menatap saya. Turut berkaca-kaca ketika puisi yang saya baca puisi sendu, pada saat itu saya bermimpi suatu saat nanti akan menjadi seorang sastrawan.

Lain halnya lagi, ketika saya mendapati kesempatan untuk ikut mewakili sekolahan berkompetisi dengan sekolahan lain sekecamatan dalam merebutkan piala bergilir Cerdas Cermat. Pada saat itu, saya bermimpi suatu saat nanti saya akan menjadi seorang ilmuwan. Sekalipun saya tidak memenangkan piala itu.

Dan masih banyak lagi, kejadian yang turut membangun perubahan mimpi saya. Sampai pada akhirnya, ketika saya besar, kuliah, tersadar. Ternyata mimpi hanyalah mimpi. Bunga tidur. Karena itulah adanya hanya di hayalan. Tidak akan merubah apapun. Kecuali ia dibangun menjadi sebuah cita-cita.

Yang saya pahami, definisi cita-cita mungkin lebih erat lagi dengan sebuah keinginan yang kuat, lalu diusahakan dengan keras, dengan strategi yang sistematis, berjangka panjang, dan rela menanggung semua konskuensi demi tercapainya keinginan itu. Cita-cita lebih realistis, berpijak pada kenyataan.

Jika diukur dengan definisi tersebut, semasa SD mungkin bisa dibilang saya belum mempunyai cita-cita. Begitupun juga ketika sudah menginjak bangku SMP. Sampai pada jenjang SMA kelas 3, itulah awal dari cita-cita saya terbangun. Saya ingin menjadi artis, spesifiknya ‘penyanyi’.

Semenjak saya lulus, saya mengejar keinginan itu. Saya berusaha keras untuk mewujudkannya. Lalu sampai mengantarkan saya ke Jakarta. Kemudian sesampainya saya ke Jakarta, saya menyusun sebuah startegi baru. Saya ikut UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) PSM (Paduan Suara Mahasiswa) untuk memperdalam skill saya bernyanyi. Setelah itu saya juga banyak ikut audisi, sampai pada akhirnya tahun 2005 saya ikut audisi AFI. Saat itu, saya tidak berhasil. Dan semenjak itu, saya mengubah cita-cita.

Saya ingin menjadi seorang penulis! Dan ketika saya sudah banyak menulis buku, saya tidak hanya ingin menjadi penulis. Cita-cita saya terus berevolusi, hingga pada detik ini evolusi itu pun belum menemui titik.

Dito: Boleh tahu, tentang sekelumit riwayat perjalanan hidup Anda?
Jawab: saya bersyukur, mempunyai kehidupan yang cukup unik dan berliku. Saya terlahir dari keluarga yang sangat berprinsip. Kedua orang tua saya berdarah Jawa. Prinsip dari keluarga saya ini terbangun dari kolaborasi budaya Jawa dan agama Islam.

Jadi, dari kecil saya terbangun dengan didikan mental disiplin ala aturan budaya Jawa ningrat. Kalau berbicara kepada orang tua harus dengan bahasa Jawa Kromo Inggil. Kalau siang harus tidur. Sebelum berangkat sekolah harus sarapan dan minum susu. Lalu cium tangan ke dua orang tua sambil berdoa, dan sebagainya.
Budaya keluarga besar orang tua saya, selepas lulus sekolah dasar pasti anaknya akan disekolahkan di perantauan. Begitupun juga saya dan saudara kandung saya (kakak dan adik). Saya, semenjak lulus SD langsung disekolahkan di Lasem, Rembang, Jawa Tengah. Saya tinggal di sebuah pesantren salaf dan sekolah di sekolahan umum. Jadi, rutinitas saya tiap sore, malam, hingga pagi, mengaji di pesantren. Sedangkan siangnya, saya sekolah di sekolahan umum di luar.

Semasa SMP saya termasuk salah satu anak pendiam. Selama kelas 1, saya sakit-sakitan. Sehingga saya yang biasanya di SD sering juara, saat kelas 1 saya tidak mendapatkan juara 5 besar. Mulai kelas 2, saya sudah bisa beradaptasi dengan lingkungan. Semenjak saat itu, saya kembali bisa meraih juara 1. Di samping itu, saya juga mempunyai keahlian baru. Saya juara 1 Lomba Qiraah. Entah seperti apa prosesnya, setelah itu tiba-tiba saya diangkat menjadi ketua Qosidah di sekolahan.

Nama saya pun mulai di kenal di sekolahan. Saya sering manggung. Hingga pada akhirnya, saya dilombakan pada tingkat kabupaten, waktu itu saya belum menang. Di pesantren saya kebetulan ada Qosidah juga, saya lalu direkrut menjadi vokal. Tak lama kemudian, saya pun dilombakan di tingkat kecamatan dan berhasil juara 1. Setelah itu, dilanjutkan tingkat kabupaten, dan masih bertahan juara 1, hingga sampai dilombakan tingkat karesidenan Pati, juga berhasil juara 1. Sampai kelompok Qosidah kami diundang oleh Bupati Rembang untuk pentas pada suatu acaranya.

Saya pada waktu itu mulai masuk di SMA. Di saat itu, selayaknya anak muda yang sedang puber, saya mulai gengsi untuk pentas Qosidah. Saya beralih ke musik pop. Saya mulai memilih teman-teman yang tidak lugu. Bahkan, saya kumpul dengan teman-teman nakal. Saya pun, cukup terpengaruh. Saya nakal. Saya sering tawuran dengan teman-teman.

Saya nakal sampai akhir kelas 2 SMA. Di akhir kelas 2, ada kejadian yang cukup dahsyat, yang mengubah hidup saya. Pada suatu ketika saya dengan 7 teman saya, memukuli 3 anak, musuh teman saya. Usai kami pukuli, dia memanggil teman-temannya. Tidak kami duga, ternyata mereka sedang berkumpul. Ada sekitar 20 an orang, teman mereka, semua mengejar kami yang hanya ber-7. Mereka semua membawa batu, kayu, bahkan ada yang bawa celurit. Kami pun lari berpencar, karena tidak memungkinkan untuk melawan.

Saya bersyukur, selamat bersama dua teman saya yang lari searah. Karena berhasil ngumpet di warung makan. Saat di warung kami sebenarnya nyaris tertangkap, untungnya Ibu Penjual menyelamatkan kita, pura-pura tidak tahu. Di samping itu, ke 3 teman saya terpojok dan kepalanya bocor digebukin. Mereka langsung dilarikan ke rumah sakit.

Kejadian itu turut menyadarkan saya. Pikiran saya berkecamuk. Saya tidak habis pikir, jika saja saya tertangkap. Saya terbunuh, setelah itu kabarnya terdengar orang tua saya. Saya yakin mereka akan sangat menyesal, kecewa dan entahlah. Saya tidak bisa membayangkan. Karena sejatinya mereka di rumah tidak ada yang tahu, kalau di samping saya tinggal di pesantren, sebenarnya saya nakal.

Dito: Adakah kejadian/peristiwa atau hikmah khusus yang membuat Anda tersentuh, atau tercerahkan?
(Misal: saat melihat kehidupan pengemis, lalu tergerak untuk membantunya)
Jawab: kejadian yang sangat menyentuh hati saya, ya waktu saya nyaris tertangkap di kejadian tawuran itu. Semenjak saat itu, saya mengalami dilema. Saya sering berpikir, ”saya ingin menjadi orang sukses, berhasil, mempunyai jabatan, kaya, terhormat dan sebagainya. Biar orang tua saya bangga dengan saya. Tapi, saya nakal. Apakah saya bisa menggapai keinginan itu dengan seperti ini?”

Gara-gara pikiran itu, saya pernah suatu ketika nekad datang ke rumah Bupati Rembang. Awalnya saya ditolak satpam. Tidak boleh masuk. Tapi, saya tidak kekurangan akal. Saya pun ikut bareng dengan tamu lain yang baru datang. Saya berhasil masuk dan bertemu Bupati. Setelah tamu lain menyelesaikan urusannya, saya pun kemudian menyampaikan pertanyaan yang sedang berkecamuk kepada Bupati.

”Maaf, Pak. Saya mau tanya. Jujur, saya ini nakal. Tapi, saya ingin menjadi orang sukses seperti Pak Bupati. Punya jabatan, kaya, terhormat, dan bermanfaat untuk orang banyak. Apakah saya bisa menjadi seperti, Bapak? Apakah ada orang yang nakal seperti saya ini, dewasanya bisa sukses seperti Bapak? Apa yang harus saya lakukan, agar saya bisa seperti Bapak?” tanyaku.

Pak Bupati tersenyum. Pada intinya ia senang dengan pertanyaan saya. Pak Bupati kemudian menyarankan saya agar belajar dengan giat. Beliau juga meyakinkan, bahwa saya pasti bisa menjadi seperti dirinya. Mendengar jawaban itu, saya senang, rasanya lega sekali. Dan kejadian konyolpun setelah itu terjadi, karena uang ongkos saya mepet, saya kemudian dengan jujur minta uang saku ke Pak Bupati. Pak Bupati kemudian memberi uang Rp. 50.000,- kepada saya. Saya pun kemudian pamit dan pulang.

Semenjak saat itu, saya semakin yakin pasti akan sukses. Saya semakin gemar membaca. Saya mulai membuat jarak dengan teman-teman yang nakal. Saya kumpul mereka sekedarnya saja.

Dito: Boleh kami tahu sejak kapan Anda menjabat sebagai direktur Literary Agency Mata Pena Writer?
Jawab: Saya menjabat Direktu di Literary Agency Mata Pena Writer sejak tahun 2009.

Dito: Apa saja rahasia sukses Anda?
Jawab: sebenarnya saya tidak punya rahasia untuk meraih kesuksesan. Dan saat ini, semua yang saya dapatkan belum mencapai predikat kesuksesan dalam kehidupan saya. Baru berproses membuka pintu kesuksesan.

Pada dasarnya simple saja pedoman yang saya pegang untuk merealisasikan semua yang saya inginkan. Yaitu berterima kasih kepada orang-orang sukses. Karena mereka telah menunjukkan peta jalan menuju kesuksesan. Selain itu juga berterima kasih kepada semua orang yang gagal. Karena mereka telah menunjukkan bahwa jalan yang dilewatinya tidak perlu diikuti. Biar perjalanan lebih lancar.

Dito: Apa sajakah visi dan misi Anda di dalam memimpin dan memajukan Literary Agency Mata Pena Writer?
Jawab: Visi saya adalah mencerdaskan bangsa dengan wacana. Sedangkan misi saya adalah mengkoordinir SDM yang ada agar senantiasa bisa membuat karya yang berkualitas dan bernilai tinggi untuk pembaca. Membekali mereka dengan kecerdasan pikir dan batin dalam berkarya. Serta menanamkan tanggung jawab besar dalam berkarya.

Dengan demikian, kami harap itu menjadi sumbangsih kami untuk kemajuan dunia perbukuan di Indonesia. Serta menjadi salah satu upaya kami untuk mencerdaskan masyarakat Indonesia khususnya dan . Amin.

Dito: Bagaimana kiat-kiat Anda di dalam manajemen waktu?
Jawab: Waktu dalam sehari ada 24 jam. Tidak pernah bertambah, tidak pernah pula berkurang. Tidak ada perbedaan antara waktu orang sukses dengan orang gagal. Sama-sama 24 jam dalam sehari. Begitupun juga, tidak ada perbedaan waktu antara si miskin dan si kaya. Mereka sama-sama memiliki waktu 24 jam dalam sehari. Yang membedakan posisi mereka, adalah bagaimana cara mengisi waktu 24 jam tersebut dalam sehari.

Bagi saya, yang penting 24 jam sehari itu saya gunakan untuk hal bermanfaat. Apapun itu. Begitulah cara saya me-manage waktu.

Dito: Apa saja jurus sukses Anda di dalam seni memimpin?
Jawab: Bagi saya, memimpin adalah menjadi seorang pelayan. Pelayan Tuhan, untuk memperbaiki yang kita pimpin. Untuk itu, agar yang kita pimpin bisa puas dengan kerja kita, dan menjadi sejahtera, kita harus mengenal mereka. Sejatinya pribadi mereka seperti apa, tingkat kesuksesan menurut mereka bagaimana, ukuran kebahagiaan bagi mereka apa, dan apa hal-hal yang kurang baik dari mereka yang perlu diperbaiki, dan sebagainya.

Selanjutnya, setelah mengetahui itu semua. Kita layani mereka dengan baik, selayaknya yang diharapkan oleh Tuan kita, yaitu Tuhan Yang Maha Esa. Jadi, bukan mutlak hanya sekedar memenuhi apa yang diinginkan yang kita pimpin. Tapi, meluruskan mereka yang kita pimpin agar selaras seperti yang diinginkan oleh Tuhan.
Ini yang kebanyakan pemimpin, salah mengartikan apa itu ‘posisi pemimpin’. Mereka seringkali terjebak hanya menuruti yang mereka pimpin. Atau sebaliknya, yang dipimpin hanya mengikuti pemimpinnya tanpa ditanggapi dengan bijaksana. Apakah itu sudah sesuai dengan harapan Tuhan?
Sekalipun seorang pemimpin, dalam kitab suci sudah jelas, jika mereka salah, kita harus menolaknya!

Dito: Siapa sajakah tokoh idola yang menginspirasi Anda?
Jawab: Tokoh idola saya cukup banyak. Dalam bidang tertentu saya mempunyai idola tersendiri. Seperti halnya dalam bidang kepemimpinan negara, saya mengidolakan Soekarno, Soeharto, Gus Dur, Amin Rais, SBY. Sekalipun dalam beberapa hal saya ada yang kurang berkenan pada diri mereka, banyak hal yang saya salut dari bagaimana mereka memerankan kepemimpinan.

Dalam bidang pendidikan, saya mengidolakan KH. Ahmad Dahlan, KH. Hasyim Asy’ari, Buya Hamka, Sunan Kalijaga, Sunan Bonang, dan sebagainya.

Di bidang sastra, saya mengidolakan Gus Mus, Danarto, Putu Wijaya, Taufiq Ismail, Ahmadun Yosi Herfanda, Helvy Tiana Rosa, Habiburrahman El Syrazi, Andrea Hirata dan sebagainya.
Di bidang aktor, ada Dedi Mizwar, Didi Petet dan sebagainya.

Jadi, saya termasuk tipologi orang yang banyak mengidolakan orang. Karena saya berpikir, tiap mereka turut menginspirasi dalam kehidupan saya. Ya, seperti yang saya utarakan sebelumnya. Bahwa, bagi saya orang sukses adalah orang yang menunjukkan peta jalan menuju kesuksesan.

Dito: Pesan apa saja yang bisa Anda sampaikan untuk pemirsa Netsains.com?
Jawab: Di saat kita merasa paling benar, di situlah awal kesalahan. Begitupun juga saat kita merasa paling pintar, di situlah benih kebodohan bersemayam di otak kita.
Demikian semoga wawancara ini bermanfaat dan menginspirasi kita semua
 

Site Info

Blog ini berisi tentang motivasi, pengembangan diri, pernikahan, sosok inspirasi, ekonomi, tips, kesehatan, dan pariwisata. Terinspirasi dari tokoh-tokoh yang memiliki tinta emas dalam perjuangannya mengarungi hidup. Semoga ALLAH SWT memberikan kita petunjuk menjadi yang lebih baik, bermanfaat dan berguna bagi masyarakat sehingga hidup kita menjadi berkah.

Iklan

MOTIVASI HIDUP BERKAH Copyright © 2009-2013. Free Template by MasnaTheme.Com.
Designed by Bie Blogger Template