Wednesday, March 9, 2011

Bisnis Islami - Sebuah Konsep dalam Perdagangan/Kewirausahaan

Pertama, bagaimana sesungguhnya anatomi bisnis yang sesuai dengan syariah itu?  Kedua, saat Islam tegak menjadi tatanan hidup dunia semenjak masa Nabi SAW hingga runtuhnya Daulah Islam era Turki Utsmani tahun 1924, tak pernah ada istilah bisnis syariah atau bisnis Islami, lalu mengapa kini mesti muncul istilah itu? Ketiga,  bisakah bisnis Islami berjalan sempurna dalam sistem saat ini ?  Baiklah, teruskan membaca karena kita akan temukan jawabannya sesaat lagi, jadi jangan kemana-mana…


Pertama, Anatomi Bisnis Islami
Bisnis dengan segala macam aktivitasnya terjadi dalam kehidupan kita setiap hari, sejak bangun pagi hingga tidur kembali.  Alarm jam weker yang membangunkan kita dini hari,  sajadah alas shalat kita, susu instan  yang “aku dan kau” minum,  sepeda motor  yang mengantarkan kita ke kantor serta semua  kebutuhan rumah tangga kita, seluruhnya  adalah produk yang dihasilkan, didistribusikan, dan dijual oleh para  pelaku bisnis.  Uang yang dibelikan beragam produk tersebut juga – salah satunya - diperoleh dari bekerja pada suatu bisnis.
Contoh   di atas menunjukkan betapa komprehensifnya cakupan bisnis. Bila semua cakupan bisnis ini dicoba  diterjemahkan, maka akan muncul pengertian yang komprehensif pula. Mari kita lihat.
Kamus Bahasa Indonesia mengartikan bisnis sebagai “usaha dagang, usaha komersial di dunia perdagangan, dan bidang usaha”. Skinner (1992)  mendefinisikan bisnis sebagai pertukaran barang, jasa atau uang yang saling menguntungkan atau memberi manfaat. Menurut Anoraga dan Soegiastuti (1996) bisnis memiliki makna dasar sebagai “the buying and selling of goods and services”. Sementara,  dalam pandangan Straub dan Attner (1994), bisnis tak lain adalah  suatu organisasi yang menjalankan aktivitas  produksi dan penjualan barang-barang dan jasa-jasa yang diinginkan oleh konsumen untuk memperoleh profit. Barang yang dimaksud adalah suatu produk yang secara fisik memiliki wujud (dapat diindera), sedangkan jasa adalah aktivitas-aktivitas yang memberi manfaat kepada  konsumen atau pelaku bisnis lainnya.
Dari semua definisi yang digali dari fakta bisnis tersebut, dapat disimpulkan bahwa suatu organisasi/pelaku  bisnis akan melakukan aktivitas bisnis dalam bentuk:
(1) memproduksi dan atau mendistribusikan barang dan/atau jasa,
(2) mencari profit dengan menjual, menyewakan, mengerjakan sesuatu, mendistribusikan, dan aktivitas sejenis lainnya, dan
(3) mencoba memuaskan keinginan konsumen.

Dari pengertian tersebut di atas juga dapat dipahami bahwa setiap organisasi bisnis akan melakukan  fungsi  dan aktivitas yang sama.  Dengan hantaran pengamatan terhadap definisi yang digali dari fakta bisnis yang ada, sepintas, banyak dari kita akan beranggapan “kalau begitu lalu apanya yang beda? Kan faktanya sama, fungsinya sama dan aktivitasnya juga sama!” Anggapan ini bisa dimaklumi jika kita berhenti sampai di sini. Namun jika kita bedah anatomi bangunan bisnisnya, barulah kita akan melihat bedanya? Penasaran? Mari kita bedah!

Bangunan  bisnis Islami jika didalami sebenarnya bisa dibandingkan dalam sejumlah aspeknya dengan bisnis non Islami. Pembandingan ini akan memudahkan pemahaman terhadap faktanya sedemikian sehingga memudahkan kita untuk melihat perbedaannya dan juga meluruskan dalam mempraktikkannya. Berikut ikhtisar anatomi bisnis Islami vs bisnis yang tidak Islami (konvensional sekuler) :
(1)    Asas : Aqidah Islam (nilai-nilai transendental) vs asas Sekularisme (nilai-nilai material).
(2)    Motivasi : Dunia - akhirat vs Dunia.
(3)    Orientasi : Profit dan Benefit (non materi/qimah), Pertumbuhan, Keberlangsungan, dan  Keberkahan vs Orientasi : Profit, Pertumbuhan, dan Keberlangsungan.
(4)    Strategi Induk : Visi dan misi organisasi terkait erat dengan misi penciptaan manusia di dunia vs Visi dan misi organisasi ditetapkan berdasarkan pada kepentingan material belaka.
(5)    Manajemen/Strategi Fungsional Operasi/Proses : Jaminan halal bagi setiap masukan, proses dan keluaran, Mengedepankan produktivitas dalam koridor syariah vs Tidak ada jaminan halal bagi setiap masukan, proses dan keluaran, Mengedepankan produktivitas dalam koridor manfaat.
(6)    Manajemen/Strategi Fungsional Keuangan : Jaminan halal bagi setiap masukan, proses dan keluaran keuangan vs Tidak ada jaminan halal bagi setiap masukan, proses dan keluaran keuangan.
(7)    Manajemen/Strategi Fungsional Pemasaran : Pemasaran dalam koridor jaminan halal vs Pemasaran menghalalkan cara.
(8)    Manajemen/Strategi Fungsional SDM : SDM profesional dan berkepribadian Islam, SDM adalah pengelola bisnis, SDM bertanggung jawab pada diri, majikan dan Allah SWT vs SDM profesional,
SDM adalah faktor produksi, SDM bertanggung jawab pada diri dan majikan.
(9)    Sumberdaya : Halal vs Halal dan haram.

Jika sembilan karakter bangunan bisnis Islami ini diringkas, maka pembedanya dengan bisnis yang tidak Islami adalah pada aspek Keberkahan. Berkah adalah ridlo Allah Swt atas amal bisnis, yaitu ketika bisnis dijalankan  sesuai dengan syariah-Nya. Karenanya, aktivitas bisnis Islami tidak dibatasi kuantitas kepemilikan hartanya, namun dibatasi dalam cara perolehan dan pendayagunaan  hartanya (ada aturan halal dan haram). Nah!

Kedua,  Mengapa Harus Disebut Bisnis Syariah?

Benar, saat Islam tegak menjadi tatanan hidup dunia semenjak masa Nabi SAW hingga runtuhnya Daulah Islam era Turki Utsmani tahun 1924, tak pernah ada istilah bisnis syariah atau bisnis Islami. Itu terjadi - sederhana saja - karena sistem hidup yang digunakan adalah sistem Islam, bukan sistem kapitalisme atau juga sosialisme komunisme. Jadi wajar saja, kalau terma yag digunakan cukup ‘bisnis’ karena secara otomatis pengertiannya akan merujuk pada sistem yang dianut saat itu. Begitu pula dengan saat ini, jika disebut kata ‘bisnis’ saja tanpa embel-embel apapun, konotasinya pasti mengarah pada sistem yang diterapkan saat ini, maka pengertiannya akan menjadi ‘bisnis kapitalis’ atau ‘bisnis konvensional’ yang pasti tidak Islami atau jauh dari syariat Islam.  Ini sama sederhananya dengan dikotomi ‘perbankan syariah’ vs ‘perbankan konvesional’, ‘pendidikan Islami’ vs ‘pendidikan sekuler’ dlsb. 

Atas dasar itu, menjadi penting penggunaan istilah ‘bisnis Islami’ atau ‘bisnis syariah’ untuk menegaskan sifat bangunan bisnis yang dilakukan dan memberi efek edukasi pada masyarakat luas bahwa kita memang tengah hidup dalam sistem yang tidak islami.

Ketiga,  Bisakah Bisnis Islami Berjalan Sempurna Dalam Sistem Saat Ini ? 
Pertanyaan ketiga ini harus dijawab dengan renungan yang dalam sambil mencermati fakta bisnis yang ada di sekitar kita. Mari kita mulai…

Bisnis yang sukses umumnya adalah bisnis yang mendapat ‘berkat” (profit, tumbuh dan sinambung), tapi  tidak atau belum tentu berkah. Lalu, kalau pun ada yang ‘berkat’ dan berkah, jumlahnya sedikit dan sulit berkembang optimal, karena terhambat perilaku bisnis sekuler yang menghalalkan segala cara. Mulai dari uang pelicin saat perizinan usaha, kickbak yang diminta saat berhasil memenangkan tender, menyimpan uang dalam rekening koran yang berbunga,  hingga iklan yang tidak senonoh.  Suka tidak suka, ini semua karena bisnis kita hari ini hidup dalam sistem kapitalistik, sistem yang tidak ideal lagi destruktif…

Bisnis Islami hanya akan hidup secara ideal dan sistem dan lingkungan yang Islami pula. Sebaliknya bisnis non Islami juga hanya akan hidup secara ideal dalam sistem dan lingkungan yang sekuler/sosialis.  Itu semua karena - bagaimanapun - aktivitas bisnis akan sangat bergantung pada sistem dan lingkungan ada.
Jadi, apa yang mesti kita lakukan? Cukupkah kita berpuas diri dengan kondisi bisnis syariah hari ini yang tumbuh berkembang tidak ideal?  Pengusaha mesti bersatu wujudkan sistem Islam (syariah dan khilafah)?  Atau … jangan-jangan kita masih pragmatis saja seraya terus mencari alternatif lain selain Islam? Dan kalau ini yang terjadi, apa kata dunia?

Muhammad Karebet Widjajakusuma
Praktisi bisnis syariah bidang konsultasi dan training manajemen dan motivasi
Pengurus Pusat Komunitas Pengusaha Rindu Syariah.
Pernah dimuat di Tabloid Media Umat di kolom Bisnis Syariah edisi 35, 22 Jumadil Awwal – 6 Jumadil Akhir 1431 H/7 Mei – 20 Mei 2010

Sumber : http://www.pengusaharindusyariah.com/artikel-bisnis/176--anatomi-bisnis-islami.html

Monday, March 7, 2011

Pola Makan Rasulullah dan Food Combining


Food Combining adalah metode pengaturan asupan makanan yang diselaraskan dengan mekanisme alamiah tubuh. Khususnya yang berhubungan dengan sistem pencernaan.

Dampak dari kombinasi makanan serasi adalah meminimalkan jumlah penumpukan sisa makanan dan metabolisme, sehingga fungsi pencernaan dan penyerapan zat makanan menjadi lancar. Dan pemakaian energi tubuh lebih efisien.

Food Combining mendorong terciptanya perilaku makan yang mengoptimalkan masukan dan penyerapan zat gizi dengan cara mengkonsumsi makanan yang serasi saja setiap kali makan.

Selain itu, food combining juga mendayagunakan fungsi sistem pencernaan dengan cara menyesuaikan apa yang dimakan dengan kebutuhan asam basa dan siklus alamiah tubuh agar metabolisme tubuh seimbang.

Dengan pemahaman dasar Food Combining, sebenarnya bisa dilakukan diet tanpa harus tersiksa dengan rasa lapar. Food Combining memungkinkan seseorang mengubah berat badannya menjadi normal dengan tetap mengkonsumsi makanan seperti biasa.

Hanya saja Food Combining ini harus dilakukan dengan pemahaman terhadap makanan dan sistem pencernaan.
Banyak bukti yang mendukung manfaat Food Combining. Namun, masih banyak ahli medis dan gizi yang menentang pola makan seperti ini.

Alasannya adalah secara alamiah setiap makanan menganudng semua unsur gizi dan dicerna melalui saluran yang sama. Mereka berpendapat bahwa sistem pencernaan manusia mampu mencerna sekaligus sehingga metode memisah misahkan makanan tertentu seperti food combining dianggap sebagai prilaku yang tidak masuk akal.

Jika kita mengkaji pola makan Rasulullah, sebenarnya Rasulullah telah menerapkan metode Food Combining. Karena Rasulullah mengkonsumsi hanya makanan tertentu pada waktu tertentu yang ternyata sangat sesuai dengan siklus pencernaan.

Selain itu, berdasar riwayat Aisyah disebutkan bahwa Nabi tidak pernah mengenyangkan perutnya dengan dua jenis makanan. Ketika Nabi sudah kenyang dengan roti, beliau tidak akan makan kurma, dan ketika sudah kenyang dengna kurma, beliau tidak akanroti.

Begitu juga bila Nabi makan dengan sup daging, beliau tidak akan memakan makanan lain selain gandum dan sup daging itu.
Rasulullah pun tidak memakan dua jenis makanan panas atau dingin secara bersamaan. Beliau juga tidak makan ikan dan daging dalam waktu bersamaan dan tidak langsung tidur setelah makan malam.

Ikan dan daging merupakan sumber protein, sehingga tidak dianjurkan oleh Rasulullah untuk mengkonsumsinya pada waktu bersamaan. Begitupun menurut pakar Food Combining yang menyatakan bahwa kombinasi ikan dan daging kurang baik.

Food Combining merupakan pola makan sehat tertua di dunia. BErdasarkan manuskrip sejarah, ditemukan bahwa food combining sudah dilakukan oleh bangsa Esseni di Palestina sekitar 2000 tahun yang lampau. Mereka mengikuti ajaran taurat yang masih murni.

Ajaran bangsa Esseni yang berhubungan dengan pola makan diantaranya, tidak menggabungkan roti dan daging pada waktu yang bersamaan, juga susu dan daging, tidak makan darah, bangkai dan daging binatang yang diharamkan (daging babi, ikan tanpa sirip/insang dan binatang melata). Serta tidak makan berlebihan.

Sekarang ini pola makan dengan metode food combining dipopulerkan kembali di Jerman sekitar tahun 1800-an, dan sejak itu menyusul di eropa, amerika dan australia. Sebenarnya belasan abad sebelum itu Rasulullah pun telah menggunakan metode food combining.

Sumber : http://fathur-net.blogspot.com/2010/08/food-combining-pola-makan-rasulullah.html

Remaja 18 Tahun Sudah Jadi Pengusaha

Bisnis aneka minuman cepat saji kian mengalir. Mulai mengusung merek pribadi hingga waralaba (franchise). Bahan dasarnya bisa susu, cincao, teh, sinom alias jamu, buah, hingga yang serba racikan sendiri. Bisnis teh kemasan siap saji misalnya, banyak diminati lantaran keuntungan yang diperoleh cukup besar, cara pembuatannya juga tak sulit.


Meracik teh yoghurt kini menjadi andalannya. Padahal, Victor Giovan Raihan, pelajar 18 tahun ini, semula hanya iseng-iseng saja membuat minuman yang memadukan teh dan susu fermentasi ini. Hasilnya, minuman olahannya ternyata memiliki banyak penggemar.

“Modal awalnya Rp 3 juta dengan meminjam dari orangtua sekitar 2010. Saat ini per outlet paling apes menghasilkan Rp 2 juta per bulan. Outlet lain yang ramai bisa lebih dari itu,” aku pemilik merek Teh Kempot ini.

Ide menamai Teh Kempot berasal dari cara orang minum teh kemasan dengan sedotan, jika teh terasa enak dan hampir habis pasti orang akan terus menyedot hingga bentuk pipinya kempot. Begitu kira-kira harapan Victor menjadikan teh yoghurt berasa paling yummy.

Sulung dua bersaudara yang bersekolah di SMA Negeri 1 Kepanjen ini memiliki 10 outlet yang dikelola sendiri dan 17 outlet yang dikelola oleh mitranya. Bermitra dengannya cukup bayar Rp 3,5 juta dan akan mendapatkan 1 paket booth (gerobak), alat masak dan 100 cup (gelas kemasan) pertama. Dua mitra diantaranya ada di Jakarta dan Palembang, lainnya tersebar di Kota Malang.

“Saya belum berani menjual hak dagang secara franchise karena masih sangat pemula. Jujur saja bisnis teh kemasan siap saji ini marjin keuntungannya bisa 350 persen. Kalau kuliner seperti, Bakso Mercon yang sedang saya kelola, marjin keuntungannya hanya 100 persen,” lanjut putra pasangan Sri Winarsih dan Bambang Hermanto.

Victor memang lebih dulu mengelola bisnis bakso, ketimbang teh yoghurt. Outlet baksonya baru ada lima, kesemuanya ada di Malang. Tahun ini, ia berencana nambah lima outlet. Bisnis yang dikelolanya ini belakangan berkembang ke minuman. Alasannya sederhana, kalau orang makan bakso pasti butuh minum.

“Saya coba beli daun teh setengah matang dari pemasok, saya kelola sendiri lalu saya mix dengan yoghurt (susu fermentasi). Ada rasa lemon tea, stoberi, dan cokelat,” ujar pria yang bermukim di Jl Panji II Kepanjen ini.

Per kemasan atau segelas teh yoghurt ukuran 250 ml dijual seharga Rp 2.000-2.500. Jumlah karyawan yang bekerja padanya kini tak kurang dari 50 orang, termasuk untuk outlet bakso dan teh yoghurt.

Setiap harinya, ia bisa menghabiskan 20 kg daun teh kering untuk diproduksi atau menjadi 70 gelas. Gula yang dibutuhkan 4 kg per outlet per hari. Sedangkan kebutuhan daging untuk bakso sekitar 20 kg per hari.

“Usaha bakso tetap akan jadi core business saya karena omzetnya besar. Kalau teh hanya sampingan. Ke depan, saya akan tambah mitra di kota-kota besar, seperti Surabaya dan Sidoarjo,” lanjut Victor.

Ia mengaku, jalan yang ia tempuh dari hasil kerja kerasnya kini membawa keberuntungan yang luar biasa di usianya yang masih belia. “Saya tidak tahu jika dulu saya mengikuti anjuran ayah untuk sekolah di kepolisian apa ‘omzet’nya akan sebesar ini. Keluarga besar saya semua di jalur angkatan bersenjata. Tapi saya tidak minat mengikuti jejak tersebut,” yakinnya.

Untuk perluasan usaha, Victor masih enggan mengajukan kredit kemana-mana. Pakai modal pribadi dan pinjam orangtua masih memungkinkan. “Toh bapak saya dapat fasilitas kredit dari bank, yakni kredit kepolisian. Saya pinjam dari situ juga,” pungkasnya.

Sumber : http://forum.vivanews.com/showthread.php?t=78670

10 Orang Sukses Berkat Kegagalan Mereka

Kesuksesaan orang-orang ini bukan dalam bentuk kebanggaan status sosial atau kebanggaan sebuah seragam, dan karena itu awal karir mereka dipenuhi orang-orang yang meledek mereka ‘bodoh’. Tapi orang-orang ini dengan sukses mengalahkan semua rintangan yang menghalangi mereka dari keberhasilan, dan tentunya keberhasilan mereka ini diikuti dengan nominal penghasilan yang gila-gilaan! Yang oleh kebanyakan orang hanya bisa didapatkan lewat mimpi.

Berikut adalah beberapa orang bodoh yg berakhir sukses :

Adam Khoo

Dia orang Singapura. Waktu kecil, ia adalah penggemar berat games dan TV. Sehari, ia bisa berjam-jam di depan TV. Baik main PS atau nonton TV.

Adam Khoo pun dikenal sebagai anak bodoh. Ketika kelas empat SD, Ia dikeluarkan dari sekolah. Ia pun masuk ke SD terburuk di Singapura. Ketika akan masuk SMP, ia ditolak oleh enam SMP terbaik di sana.

Akhirnya, ia bisa masuk ke SMP terburuk di Singapura. Begitu terpuruknya prestasi akademisnya, tapi lama kelamaan membaik justru karena cemoohan teman-temannya, hingga akhirnya memperoleh kesuksesan di dunia bisnis.

Prestasi Adam di dunia bisnis ditandai pada saat Adam berusia 26 tahun. Ia telah memiliki empat bisnis dengan total nilai omset per tahun US$ 20 juta.

Kisah bisnis Adam dimulai ketika ia berusia 15 tahun. Ia berbisnis music box. Bisnis berikutnya adalah bisnis training dan seminar. Pada usia 22 tahun, Adam Khoo adalah trainer tingkat nasional di Singapura. Klien-kliennya adalah para manager dan top manager perusahaan-perusahaan di Singapura. Bayarannya mencapai US$ 10.000 per jam.


Albert Enstein

Siapa yang belum tahu Albert Einstein? Dialah Ilmuwan terkenal abad 20 yang terkenal dengan teori relativitasnya. Dia juga salah satu peraih Nobel. Siapa sangka dia adalah seorang anak yang terlambat berbicara dan juga mengidap Autisme. Waktu kecil dia juga suka lalai dengan pelajaran.







Aristotle Onassis

Di sekolah, ia bodoh dan suka mencari perkara, mengikuti contoh banyak orang kaya. Tidak aneh kalau ia diusir dari beberapa sekolah. Ia paling sering menduduki ranking terbawah di kelasnya. Salah seorang gurunya berkata:
Teman-teman sekelas memuja dia, tetapi guru guru dan keluarganya berputus asa. Selagi ia masih muda, dengan mudah orang dapat melihat bahwa dia akan menjadi seorang di antara mereka yang akan menghancurkan diri sama sekali atau sukses secara gilang-gemilang. Walaupun raportnya di sekolah jauh dari bagus, bakatnya untuk berdagang dan mencari uang telah tampak sejak dini. Akhirnya dia menjadi seorang milyuner.





Thomas Alva Edison


Suatu hari, seorang bocah berusia 4 tahun, agak tuli dan bodoh di sekolah, pulang ke rumahnya membawa secarik kertas dari gurunya. ibunya membaca kertas tersebut,
Tommy, anak ibu, sangat bodoh. kami minta ibu untuk mengeluarkannya dari sekolah.
Sang ibu terhenyak membaca surat ini, namun ia segera membuat tekad yang teguh, ”anak saya Tommy, bukan anak bodoh. saya sendiri yang akan mendidik dan mengajar dia.”

Tommy kecil adalah Thomas Alva Edison yang kita kenal sekarang, salah satu penemu terbesar di dunia. dia hanya bersekolah sekitar 3 bulan, dan secara fisik agak tuli, namun itu semua ternyata bukan penghalang untuk terus maju.

Siapa yang sebelumnya menyangka bahwa bocah tuli yang bodoh sampai-sampai diminta keluar dari sekolah, akhirnya bisa menjadi seorang genius? jawabannya adalah ibunya! Ya, Nancy Edison, ibu dari Thomas Alva Edison, tidak menyerah begitu saja dengan pendapat pihak sekolah terhadap anaknya.



Chris Gardner



Sudah pernah nonton film atau baca buku Pursuit of Happyness ? Itulah kisah nyata kehidupan Christoper Paul Gardner yang diperankan oleh Will Smith. Pahit manisnya kehidupan tampaknya sudah dirasakan olenya. Kehilangan tempat tinggal, ditinggal istri, ditangkap polisi, kesulitan membayar kredit, semuanya sudah dirasakan. Dia bukanlah orang berpendidikan tinggi tapi dia terus berusaha dan berjuang, Kini dia menjadi seorang milyuner sukses, motivator, entrepeneur dan filantropis.

Sekarang dia mempunyai Gardner Rich & Co, sebuah perusahaan pialang saham.




Ludwig Van Beethoven



















Jika anda mengenal seorang wanita yang sedang hamil, yang telah mempunyai 8 anak, tiga diantaranya tuli, dua buta, satu mengalami gangguan mental dan wanita itu sendiri mengidap sipilis, apakah anda akan menyarankannya untuk menggugurkan kandungannya? Jika anda menjawab ya, maka anda baru saja membunuh salah satu komponis masyur dunia. Karena anak yang dikandung oleh sang ibu tersebut adalah Ludwig Van Beethoven.

Ketika Beethoven berumur di ujung dua puluhan, tanda-tanda ketuliannya mulai tampak, tapi akhirnya ia menjadi Komponis yang terkenal dengan karya 9 simfoni, 32 sonata piano, 5 piano concerto, 10 sonata untuk piano dan biola, serangkaian kuartet gesek yang menakjubkan, musik vokal, musik teater, dan banyak lagi.



Louis Braille


Louis Braille mengalami kerusakan pada salah satu matanya ketika berusia 3 tahun. Waktu itu secara tidak sengaja dia menikam matanya sendiri dengan alat pembuat lubang dari perkakas kerja ayahnya. Kemudian mata yang satunya terkena sympathetic ophthalmia, sejenis infeksi yang terjadi karena kerusakan mata yang lainnya.

Kebutaan tidak membuatnya putus asa, ia menciptakan abjad Braille yang membantu orang buta juga bisa membaca. Sekarang siapa yang tidak tahu Abjad Braille?






Abraham Lincoln


Kisah Lincoln merupakan contoh klasik orang-orang yang benar-benar berani gagal.
Gagal dalam bisnis pada tahun 1831.
Dikalahkan di Badan Legislatif pada tahun 1832.
Gagal sekali lagi dalam bisnis pada tahun1833.
Mengalami patah semangat pada tahun 1836.
Gagal memenangkan kontes pembisara pada tahun1838.
Gagal menduduki dewan pemilih pada tahun 1840.
Gagal dipilih menjadi anggota Kongres pada tahun 1843.
Dilantik menjadi anggota Kongres pada tahun 1846.
Gagal menjadi anggota Kongres pada tahun 1848.
Gagal menjadi anggota senat pada tahun 1855.
Gagal Menjadi Presiden Pada Tahun 1856.
Gagal Menjadi anggota Dewan Senat pada tahun 1858.
Akhirnya pada tahun 1860 dilantik sebagai presiden Amerika yang ke-16 dan salah seorang presiden yang sukses dalam sejarah Amerika.



Bill Gates


Nah, ada yang tidak kenal Bill Gates? William Henry Gates III, atau yang lebih dikenal Bill Gates adalah pendiri (bersama Paul Allen) dan ketua umum perusahaan perangkat lunak AS, Microsoft. Ia juga merupakan seorang filantropis melalui kegiatannya di Yayasan Bill & Melinda Gates.

Ia menempati posisi pertama dalam orang terkaya di dunia versi majalah Forbes selama 13 tahun (1995 hingga 2007). Siapa sangka dia DO dari Harvard dan sebelumnya pernah bekerja sebagai Office Boy




Mark Zuckerberg

Yang satu ini dinobatkan sebagai miliarder termuda dalam sejarah yang memulai dari keringatnya sendiri. Bagaimana tidak, dimulai dari sebuah situs penghubung mahasiswa Harvard, ternyata banyak yang menyukainya, dengan nekat ia mengikuti jejak seniornya, Bill Gates, DO dari Harvard untuk mengembangkan situs tersebut menjadi Facebook yang kita kenal sekarang.

Tahukah Anda? Mark pernah menolak tawaran Friendster yang ingin membeli Facebook 10 juta US$, artinya sekitar Rp. 9,500,000,000 (kurs Rp. 9,500), tawaran dari viacom 750 juta dolar (Rp. 7,125,000,000,000) dan yang paling mengagetkan tawaran dari yahoo satu miliar dolar (Rp. 9,500,000,000,000).


Sumber : http://berita-plus-plus.blogspot.com/2011/03/10-orang-bodoh-yang-menjadi-sukses.html

Sunday, February 13, 2011

Kesabaran Bu Khairiyah Menghadapi Kehilangan Empat Nyawa

Hidup ini memang ujian. Seperti apa pun warna hidup yang Allah berikan kepada seorang hamba, tak luput dari yang namanya ujian. Bersabarkah sang hamba, atau menjadi kufur dan durhaka.

Dari sudut pandang teori, semua orang yang beriman mengakui itu. Sangat memahami bahwa susah dan senang itu sebagai ujian. Tapi, bagaimana jika ujian itu berwujud dalam kehidupan nyata. Mampukah?
Hal itulah yang pernah dialami Bu Khairiyah. Semua diawali pada tahun 1992.

Waktu itu, Allah mempertemukan jodoh Khairiyah dengan seorang pemuda yang belum ia kenal. Perjodohan itu berlangsung melalui sang kakak yang prihatin dengan adiknya yang belum juga menikah. Padahal usianya sudah nyaris tiga puluh tahun.


Bagi Khairiyah, pernikahan merupakan pintu ibadah yang di dalamnya begitu banyak amal ibadah yang bisa ia raih. Karena itulah, ia tidak mau mengawali pintu itu dengan sesuatu yang tidak diridhai Allah.

Ia sengaja memilih pinangan melalui sang kakak karena dengan cara belum mengenal calon itu bisa lebih menjaga keikhlasan untuk memasuki jenjang pernikahan. Dan berlangsunglah pernikahan yang tidak dihadiri ibu dan ayah Khairiyah. Karena, keduanya memang sudah lama dipanggil Allah ketika Khairiyah masih sangat belia.

Hari-hari berumah tangga pun dilalui Khairiyah dengan penuh bahagia. Walau sang suami hanya seorang sopir di sebuah perusahaan pariwisata, ia merasa cukup dengan yang ada.
Keberkahan di rumah tangga Khairiyah pun mulai tampak. Tanpa ada jeda lagi, Khairiyah langsung hamil. Ia dan sang suami pun begitu bahagia. "Nggak lama lagi, kita punya momongan, Bang!" ujarnya kepada sang suami.

Mulailah hari-hari ngidam yang merepotkan pasangan baru ini. Tapi buat Khairiyah, semuanya berlalu begitu menyenangkan.

Dan, yang ditunggu pun datang. Bayi pertama Bu Khairiyah lahir. Ada kebahagiaan, tapi ada juga kekhawatiran.

Mungkin, inilah kekhawatiran pertama untuk pasangan ini. Dari sinilah, ujian berat itu mulai bergulir.
Dokter menyatakan bahwa bayi pertama Bu Khairiyah prematur. Sang bayi lahir di usia kandungan enam bulan. Ia bernama Dina.

Walau dokter mengizinkan Dina pulang bersama ibunya, tapi harus terus berobat jalan. Dan tentu saja, urusan biaya menjadi tak terelakkan untuk seorang suami Bu Khairiyah yang hanya sopir.

Setidaknya, dua kali sepekan Bu Khairiyah dan suami mondar-mandir ke dokter untuk periksa Dina. Kadang karena kesibukan suami, Bu Khairiyah mengantar Dina sendirian.

Beberapa bulan kemudian, Allah memberikan kabar gembira kepada Bu Khairiyah. Ia hamil untuk anak yang kedua.

Bagi Bu Khairiyah, harapan akan hiburan dari anak kedua mulai berbunga. Biarlah anak pertama yang menjadi ujian, anak kedua akan menjadi pelipur lara. Begitulah kira-kira angan-angan Bu Khairiyah dan suami.

Dengan izin Allah, anak kedua Bu Khairiyah lahir dengan selamat. Bayi itu pun mempunyai nama Nisa. Lahir di saat sang kakak baru berusia satu tahun. Dan lahir, saat sang kakak masih tetap tergolek layaknya pasien berpenyakit dalam. Tidak bisa bicara dan merespon. Bahkan, merangkak dan duduk pun belum mampu. Suatu ketidaklaziman untuk usia bayi satu tahun.

Beberapa minggu berlalu setelah letih dan repotnya Bu Khairiyah menghadapi kelahiran. Allah memberikan tambahan ujian kedua buat Bu Khairiyah dan suami. Anak keduanya, Nisa, mengalami penyakit aneh yang belum terdeteksi ilmu kedokteran. Sering panas dan kejang, kemudian normal seperti tidak terjadi apa-apa. Begitu seterusnya.

Hingga di usia enam bulan pun, Nisa belum menunjukkan perkembangan normal layaknya seorang bayi. Ia mirip kakaknya yang tetap saja tergolek di pembaringan. Jadilah Bu Khairiyah dan suami kembali mondar-mandir ke dokter dengan dua anak sekaligus.

Di usia enam bulan Nisa, Allah memberikan kabar gembira untuk yang ketiga kalinya buat Bu Khairiyah dan suami. Ternyata, Bu Khairiyah hamil.

Belum lagi anak keduanya genap satu tahun, anak ketiga Bu Khairiyah lahir. Saat itu, harapan kedatangan sang pelipur lara kembali muncul. Dan anak ketiganya itu bayi laki-laki. Namanya, Fahri.

Mulailah hari-hari sangat merepotkan dilakoni Bu Khairiyah. Bayangkan, dua anaknya belum terlihat tanda-tanda kesembuhan, bayi ketiga pun ikut menyita perhatian sang ibu.

Tapi, kerepotan itu masih terus tertutupi oleh harapan Bu Khairiyah dengan hadirnya penghibur Fahri yang mulai berusia satu bulan.

Sayangnya, Allah berkehendak lain. Apa yang diangankan Bu Khairiyah sama sekali tidak cocok dengan apa yang Allah inginkan. Fahri, menghidap penyakit yang mirip kakak-kakaknya. Ia seperti menderita kelumpuhan.

Jadilah, tiga bayi yang tidak berdaya menutup seluruh celah waktu dan biaya Bu Khairiyah dan suami. Hampir semua barang berharga ia jual untuk berobat. Mulai dokter, tukang urut, herbal, dan lain-lain. Tetap saja, perubahan belum nampak di anak-anak Bu Khairiyah.

Justru, perubahan muncul pada suami tercinta. Karena sering kerja lembur dan kurang istirahat, suami Bu Khairiyah tiba-tiba sakit berat. Perutnya buncit, dan hampir seluruh kulitnya berwarna kuning.

Hanya sekitar sepuluh jam dalam perawatan rumah sakit, sang suami meninggal dunia. September tahun 2001 itu, menjadi titik baru perjalanan Bu Khairiyah dengan cobaan baru yang lebih kompleks dari sebelumnya. Dan, tinggallah sang ibu menghadapi rumitnya kehidupan bersama tiga balita yang sakit, tetap tergolek, dan belum memperlihatkan tanda-tanda kesembuhan.

Tiga bulan setelah kematian suami, Allah menguji Bu Khairiyah dengan sesuatu yang pernah ia alami sebelumnya. Fahri, si bungsu, ikut pergi untuk selamanya.

Kadang Bu Khairiyah tercenung dengan apa yang ia lalui. Ada sesuatu yang hampir tak pernah luput dari hidupnya, air mata.

Selama sembilan tahun mengarungi rumah tangga, air mata seperti tak pernah berhenti menitik di kedua kelopak mata ibu yang lulusan 'aliyah ini. Semakin banyak sanak kerabat berkunjung dengan maksud menyudahi tetesan air mata itu, kian banyak air matanya mengalir. Zikir dan istighfar terus terucap bersamaan tetesan air mata itu.

Bu Khairiyah berusaha untuk berdiri sendiri tanpa menanti belas kasihan tetangga dan sanak kerabat. Di sela-sela kesibukan mengurus dua anaknya yang masih tetap tergolek, ia berdagang makanan. Ada nasi uduk, pisang goreng, bakwan, dan lain-lain.

Pada bulan Juni 2002, Allah kembali memberikan cobaan yang mungkin menjadi klimaks dari cobaan-cobaan sebelumnya.

Pada tanggal 5 Juni 2002, Allah memanggil Nisa untuk meninggalkan dunia buat selamanya. Bu Khairiyah menangis. Keluarga besar pun berduka. Mereka mengurus dan mengantar Nisa pergi untuk selamanya.

Entah kenapa, hampir tak satu pun sanak keluarga Bu Khairiyah yang ingin kembali ke rumah masing-masing. Mereka seperti ingin menemani Khairiyah untuk hal lain yang belum mereka ketahui.

Benar saja, dua hari setelah kematian Nisa, Nida pun menyusul. Padahal, tenda dan bangku untuk sanak kerabat yang datang di kematian Nisa belum lagi dirapikan.

Inilah puncak dari ujian Allah yang dialami Bu Khairiyah sejak pernikahannya.

Satu per satu, orang-orang yang sebelumnya tak ada dalam hidupnya, pergi untuk selamanya. Orang-orang yang begitu ia cintai. Dan akhirnya menjadi orang-orang yang harus ia lupai.

Kalau hanya sekadar air mata yang ia perlihatkan, nilai cintanya kepada orang-orang yang pernah bersamanya seperti tak punya nilai apa-apa.

Hanya ada satu sikap yang ingin ia perlihatkan agar semuanya bisa bernilai tinggi. Yaitu, sabar. "Insya Allah, semua itu menjadi tabungan saya buat tiket ke surga," ucap Bu Khairiyah kepada Eramuslim.


Story and Photo by www.eramuslim.com

Anni Iwasaki : Emansipasi Wanita Indonesia Salah Kaprah

Kutipan wawancara Anni Iwasaki oleh Dr. Dito Anurogo (Netsains.com)

Menjadi penulis, ibu rumah tangga, dengan segudang aktivitas di negeri Sakura, memang memerlukan kelebihan tersendiri. Anni Iwasaki dapat dikatakan sebagai sosok ibu super. Berikut wawancara eksklusif kami dengan ibu Anni.

Dito Anurogo (DA): Sebenarnya, apa sih cita-cita Ibu sejak kecil?
Anni Iwasaki (AI): Menjadi orang kaya.

DA : Boleh tahu siapa (saja) tokoh Idola Ibu?
Tidak punya. Kami dari keluarga petani desa. Dari keluarga besar hanya ibu saya yang keluar dari Prambon.
Harusnya idola saya adalah kedua orang tua saya, namun, keduanya bercerai sebelum saya memahami arti kehidupan berkeluarga.

DA : Boleh kami mengetahui pengalaman apa saja di masa kecil, remaja, dewasa Ibu yang begitu berkesan, menempa, dan mengandung hikmah? (Silakan diceritakan beberapa secara singkat dan memikat)
AI: Kami tinggal di Surabaya. Setiap liburan puasa saya dan mbakyu saya sebulan penuh ke desa Prambon, Kediri, berlibur di rumah bude dan bergantian menginap di tujuh saudara/i ibu. Rumah mereka saling berdekatan begitu juga nenek, sebagai god mother-nya hahahaaa. Kakek sudah meninggal sebelum saya lahir.
Bulan puasa nenek banyak mengadakan selamatan, bisa dibilang dapurnya ngepul terus dan yang rewang banyak sekali sampai menginap. Kue banyak, makanan banyak. Dari daerah sekitar banyak saudara/i dan putra/inya sebaya dengan saya juga turut berdatangan. Yang saya takuti kehidupan desa dimalam hari, gelap. Dan tidak saya sukai adalah toiletnya jauh ditengah kebon.

Ketika mulai menginjak sekolah menengah pertama, terjadi peralihan kekuasaan dari Presiden Soekarno ke Presiden Soeharto, kehidupan di desa sangat mencekam, bahkan saudara/i ibu berdatangan mengungsi kerumah kami di Surabaya. Saya juga turut demo-demo.

Sejak saat itu saya lebih suka meluangkan waktu dengan teman-teman saya di Surabaya. Mulai berpikir hak-hak politik, cita-cita, sukses, masa depan dan memilih hidup di kota. Ketika di sekolah menengah atas saya mengambil jurusan sos-pol.

Sebulan setelah menikah saya diboyong ke Tokyo. Selang tiga bulan saya mengandung. Kelahiran putra pertama saya, menghentikan seluruh aktivitas di luar apartemen mempelajari bahasa Jepang.

Hidup berkeluarga di Jepang dengan pria Jepang dalam sistim pemerintahan dan menjadi bagian masyarakat ilmiah Jepang yang sadar akan hak dan kewajiban politik (berdasarkan undang-undang). Mengantarkan saya kepada titik balik “kodrat”, dalam bahasa akademik disebut ”hakiki”. Dari bercita-cita menjadi pencari nafkah, menjadi ibu manusia Jepang melaksanakan fungsi generasi-regenerasi.

Sekaligus dalam struktur sosial-ekonomi saya adalah pendaya guna nafkah keluarga (menejer dan konsumen sekaligus menerbitkan demand).

Sebulan setelah menikah saya diboyong ke Tokyo. Selang tiga bulan saya mengandung. Kelahiran putra pertama saya menghentikan seluruh aktivitas di luar apartemen ingin melanjutkan kuliah di negeri ini.

Sejak persiapan menyongsong kehamilan saya yang pertama hinggá kelahiran ketiga putra kami, saya dan suami semakin merasakan dan menyadari nilai kebersamaan, bukan berarti renteng-renteng kemana-mana selalu berdua, melainkan secara spiritually, setiap detik rasa tentram dan nyaman dapat melahirkan rasa aman dan trust kepada ketiga janin kami dengan demikian lebih mudah menumbuh kembangkan jiwa manusiawi.
Kami berdua bertekad harus berhasil menjadi ayah-ibu yang lebih baik dari generasi sebelumnya. Tidak ada alasan gagal, karena pemerintah Jepang melaksanakan kewajiban dengan baik menyiapkan sarana dan prasarana hidup berkeluarga, jaminan kesejahteraan sosial dan jaminan hidup dihari tua hingga kemudahan-kemudahan hidup apabila keadaan darurat menimpa.

Tentang emansipasi wanita model Indonesia. Selama sekolah di Indonesia hinggá lulus sekolah menengah atas. Saya belum pernah diajarkan dikelas membaca surat-surat Kartini, bahkan sampul bukunyapun saya belum pernah melihat. Emansipasi RA Kartini yang dilekatkan dalam batok kepala saya disetiap hari Kartini ketika itu, adalah, “wanita bukan lagi konco wingking emansipasi adalah saatnya wanita tidak boleh kalah dengan pria”.

Mengusik saya untuk membedah lalu menggugat Pahlawan Nasional RA Kartini.

Ketika suami bertugas ke Jakarta, salah satu buku yang saya pesan adalah Habis Gelap Terbitlah Terang. Semalam saja buku itu saya baca habis. Saya langsung menangis berkelanjutan hingga berhari-hari, ternyata jalan hidup yang sekarang saya jalani inilah cita-cita RA Kartini dalam upayanya membangun bangsa. ”Betapa kejamnya orang-orang yang menyelewengkan cita-cita dan mempermainkan arwah Pahlawan Nasional itu. Dan sekaligus mempermainkan masa depan generasi muda termasuk hidup saya ....”

Dalam surat-surat RA Kartini itu saya temukan: tersebut dua perempuan yang hak-haknya diperjuangkan oleh Kartini yaitu: perempuan sebagai gadis dan perempuan sebagai ibu.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia/KBBI gadis: anak perempuan yang sudah akil-baliq belum kawin. Ibu: perempuan yang telah melahirkan anak.

Gagasan Kartini tentang perempuan akil baliq belum kawin , ”...tentang anak gadis yang bebas, yang berdiri sendiri, mencari rezekinya” (31 Des 1901, Nyonya Abendanon).

Gagasan Kartini tentang perempuan yang memilih menjadi ibu: ”Kami di sini meminta, ya memohonkan, meminta dengan sangatnya supaya diusahakan pengajaran dan pendidikan anak-anak perempuan, bukanlah sekali-kali karena kami hendak menjadikan anak-anak perempuan itu saingan orang laki-laki dalam perjuangan hidup ini, melainkan karena kami,-oleh sebab sangat yakin akan besar pengaruh yang mungkin datang dari kaum perempuan –hendak menjadikan perempuan itu lebih cakap melakukan kewajibannya , kewajiban yang diserahkan oleh Alam sendiri ke dalam tangannya; menjadi ibu-pendidik manusia yang pertama-tama.

Dalam teori akademik-universal psikologi pengembangan, pendidikan anak sejak dini adalah tiga tahun pertama kehidupan seorang anak. Yang disebut golden ages bahasa Jepangnya adalah mitsuno tamashi hyaku made – kehidupan tiga tahun pertama adalah menentukan kehidupan selanjutnya.

Setelah membaca kumpulan surat itu, saya mengerti penyebab RA Kartini berkali-kali hendak diturunkan dari kePahlawanan Nasional-nya.

Dalam masa peralihan ke pemerintahan RI dari orde lama kepada orde baru pro barat plus Jepang, investor dari negeri-negeri itu bagaikan air bah mengalir ke Indonesia. Namun disambut oleh demo-demo dari para pekerja , disini saya ingatkan bahwa yang demo itu adalah para bapak. Marak meminta hak-hak pekerja dan pembayaran lebih baik terutama yang bekerja di pabrik-pabrik.

Rupanya pemerintah menggantikan para bapak dengan cara mendorong para ibu rumah tangga memasuki lapangan kerja khususnya di pabrik-pabrik adalah solusi pemerintah agar para investor tidak ketakutan menancapkan usahanya di negeri ini.

Dan idiologi Pahlawan Pergerakan Nasional RA Kartini dianggap menghalangi mobilisasi ibu rumah tangga memasuki lapangan kerja menggantikan para bapak.

Pemerintah sekaligus menikmati ’multiflier-effect’nya: mendapat pajak pendapatan penambah kas negara. Sekaligus dengan gaji itu mobilisasi para ibu rumah tangga dapat membuka lapangan pekerjaaan tempat penitipan anak, play grup dan semacamnya. Sekaligus membuka ’lapangan pekerjaan’ untuk golongan lemah menjadi pesuruh rumah tangga di keluarga-keluarga yang ibunya bergiat dan bekerja diluar rumah dari kegiatan Dharma Wanita, pengusaha wanita, karyawati hingga buruh-buruh wanita di pabrik-pabrik.

Sekaligus pula dengan sisa gajinya dapat membeli barang-barang yang diimpor secara legal atau selundupan yang paling ngetren saat itu adalah kosmetik masuk ke pasar hingga ke desa-desa.

DA : Bagaimana cara Ibu mengharmoniskan antara karir dengan keluarga?
AI: Setelah saya jalani akhirnya saya menyadari bahwa fungsi dan peranan saya sebagai ibu rumah tangga adalah karir yang sesungguhnya (KBBI karir: memajukan kehidupan). Maka karir saya adalah sebagai istri dan ibu. Dari situ saya memperoleh tunjangan dan fasilitas hidup bersama suami dan anak-anak. Dan saya harus berhasil membangun keluarga sesuai dengan fungsi hidup yang telah saya pilih. Aktivitas diluar itu tidak wajib, saya kerjakan saya peroleh kepuasan batin, tidak saya kerjakan saya tidak memendam rasa bersalah.

Di Jepang semua wanita menikah menjadi ibu rumah tangga di keluarganya masing-masing. Disana tidak ada pesuruh rumah tangga seperti di Indonesia. Tiga puluh enam tahun yang lalu, di Jepang, kami telah menjalankan pekerjaan seharĂ­-hari memasak dengan pengetahuan keseimbangan gizi yang selalu up-date, membesarkan anak berdasarkan pengetahuan pisik, psikis, sosial dan spiritual terutama psikologi pengembangan yang selalu up-date.

Menyelesaikan pekerjaan sehari-hari mengoperasikan teknologi seperti mesin cuci piring, mesin cuci baju dan mesin pengering baju dlsb. Tidak ada istilah gaji suami yang ada adalah gaji keluarga. ATM sudah ada, dari mesin ATM ibu rumah tangga Jepang langsung mengelola gaji keluarga untuk biaya hidup sehari-hari.
Umumnya ibu rumah tangga di Jepang punya hobi seperti bermain golf, tenis, melukis, berwisata atau kegiatan lain.

Nah, untuk saya kegiatan itu adalah : mengamati, menulis dan bergiat di FPC Jepang (Foreign Press Centre) di Tokyo. Aktivitas saya ini bukan kegiatan saya berperan ganda sebagai wanita-karir atau wanita-pekerja yang memperoleh gaji dari pekerjaan itu. Melainkan bagian dari tugas saya sebagai ibu manusia yang harus selalu kritis dan aktif meluruskan jalannya pemerintahan dan turut mengantisipasi instabilitas global. Sebagai warga negara Indonesia aktivitas saya di luar ini bisa jadi lebih banyak sampai masuk ke FPC segala, karena saya berkeinginan Indonesia maju jika bisa, ya lebih baik dari Jepang. ^^

Kegiatan saya menulis baru saya mulai saat putra bungsu saya masuk taman kanak-kanak. Dan kegiatan diluar rumah selain urusan rt-rw , sekolah dan pendidikan ekstra kurikuler anak-anak, saya mulai ketika putra bungsu saya masuk sekolah menengah pertama. Dananya dari uang saku saya sendiri.

Dengan begitu saya tidak perlu dikejar atau mengejar target bahkan bisa memilih. Saya hanya meliput event yang ada kaitannya dengan visi-misi yang sedang saya tekuni. Yaitu mendalami seluk beluk sistem pemerintahan demokrasi-monarkhi Jepang sebagai fasilitator, stabilisator dan dinamisator mensejahterakan kehidupan rakyatnya. Sekaligus dalam acara jumpa pers saya langsung bisa mengamati body-language para aktor Jepang dan dunia yang keluar-masuk Tokyo.
DA : Boleh tahu pesan moral dan inti dari buku: “Mahligai Perkawinan” dan ”Dinamika Kehidupan”?
AI: Manalah ketika saya seusia itu berpikir pesan moral atau apapun tentang visi, misi maupun program kerja ? Saya ingin bercerita, punya cerita ya berceritalah melalui tulisan.

Seperti yang saya ceritakan di atas di Indonesia emansipasi mengeluarkan para ibu rumah tangga dari fungsi domestiknya saat itu sedang menjadi gerakan nasional. Undang Undang Pernikahan RI I Thn 1974 menjadi kontroversial dan tidak berdaya membendung arus emansipasi salah kaprah akibat adanya ambigu pemerintah tentang hakikat emansipasi itu.

Yang dijadikan kontroversial adalah Bab VI Hak Dan Kewajiban Suami-isteri Pasal 31 (3) Suami adalah kepala keluarga dan isteri ibu rumah tangga.

Banyak wanita pekerja, apalagi yang menduduki jabatan penting tidak setuju jika suami dijadikan kepala keluarga. Padahal sebetulnya yang dibidik adalah Pasal 34 (2) Isteri wajib mengatur urusan rumah- tangga sebaik-baiknya. Arti pasal yang terakhir ini adalah isteri tidak hak menduduki lapangan kerja.

Sekolah Kepandaian Putri rintisan para Pahlawan Nasional seperti Cut Meutia, Nyi Ahmad Dahlan, Maria Walanda Maramis, RA Kartini, R Dewi Sartika pun di bubarkan.

Fiksi saya yang pertama Mahligai Perkawinan ketika di muat sebagai novelet bersambung pertama di dunia , ini adalah istilahnya novelis kondang Ris Prasetyo, di majalah Kartini tahun 1986-87 dengan judul Dialog Panjang. Karena banyak mendapat respon berupa surat pembaca, Redaktur Pelaksana saat itu Pak (Alm) Roejito SK meminta saya agar menyambungnya. Jadilah Dialog Panjang II dan III padahal terbitan pertama dituliskan Dialog Panjang saja tanpa angka I.

Isinya adalah ”intropeksi” diri seorang ibu rumah tangga yang memiliki ibu mertua berpendidikan Belanda ekonomi golongan atas. Kan berbeda itu dengan kehidupan keluarga umumnya orang Indonesia. Keluarga tinggalan Belanda, punya disiplin tinggi selayaknya kami di Jepang. Setting di Jakarta.

Sedangkan Dinamika Kehidupan, adalah perjuangan membangun keluarga dari pernikahan pria Jepang-wanita Indonesia yang tidak pernah bercita-cita ”hanya” menjadi ibu rumah tangga. Settingannya di Tokyo dan di negara Kuwait.

Keduanya memberikan motivasi dan kiat-kiat praktis mulai dari dasar pemikiran hingga kepada praktik sehari-hari. Saya tujukan kepada para pembaca di Indonesia khususnya kaum wanita yang tetap teguh dan berkeinginan menjadi ibu rumah tangga dan berhasil.

DA : Apa yang melatarbelakangi (behind the scene) kedua karya itu?
AI: Salah satu upaya meluruskan bahwa emansipasi bukan merubah fungsi hidup seorang ibu rumah tangga menjadi pencari nafkah keluarga dengan meninggalkan putra/inya yang masih kecil bersama, neneknya, pesuruh rumah tangga maupun suster.

Emansipasi seharusnya memajukan pengetahuan dan ketrampilan ibu rumah tangga kepada profesionalisme dalam tata-kelola kehidupan berkeluarga. Jika tunjangan untuk istri kurang besar ya tuntut pemerintah untuk menambahnya.

DA : Dari mana ide tentang kedua buku ini bermula?
AI: Dari banyaknya perjalanan yang saya lakukan dan menetap di berbagai negara maju dan di negara berkembang-terpuruk. Lalu membuat komparasi tentang peranan ibu rumah tangga dalam pembangunan karakter bangsa sejak dini. Sekaligus sebagai pendaya guna kekayaan bangsa berupa gaji keluarga yang dibawa pulang oleh suami setiap bulan.

Ibu-ibu rumah tangga dari Jepang, Eropa, AS, Australia sangat sigap dan perhitungan dibandingkan dengan ibu-ibu dari negara berkembang seperti dari India, Arab, Asia Tenggara, Amerika Selatan yang memiliki pesuruh rumah tangga. Yang saya sebut terakhir ini memang terlihat lebih sibuk karena peran gandanya itu, namun ternyata sedikit sekali manfaat yang dihasilkannya.

DA : Bagaimana cara Ibu memadukan seni jurnalistik, politik, pendidikan, dunia anak, dsb?
AI: Aktivitas sehari-hari ibu rumah tangga (irt) di Jepang mencakup aktivitas semua itu. Jurnalistik, penghubung jalinan jiwa melalui komunikasi menyenangkan antara ayah dan ketiga putra kami yang jarang bertemu. Saya memberi informasi kepada ayahnya tentang topik-topik pembicaraan dan seberapa banyak perbendaharaan kata yang disukai dan dimiliki oleh ketiga putra kami. Begitu pula sebaliknya. Politik, kami adalah pelaksana kehidupan domestik pengembang sain pembangunan generasi dan regenerasi, irt Jepang adalah home maker.

Saya sebut “kami” di Jepang ini ada sekitar 40 jutaan ibu rumah tangga dan bisa dibilang semuanya bergerak kearah yang sama. Pendidikan, ibu rumah tangga Jepang bertugas mengembangkan karakter anak-anak hingga usia 18 tahun sedangkan guru-guru disekolah membangun kecerdasan. Komunikasi dua arah sangat intens. Saya pernah menjabat ketua Parents-Teachers Asc (PTA) ketika putra bungsu saya duduk di sekolah dasar .

Dunia anak-anak, saya ketahui ketika membesarkan putra-putra kami. Saya langsung terjun ke dalam dunia mereka kemudian perlahan namun pasti secara bertahap saya perkenalkan anak-anak dengan dunia kami dan membimbingnya masuk.

Penulisan jurnalistik sekaligus adalah wahana dan sarana saya mempublikasikan pengetahuan dan gagasan-gagasan kepada semua kalangan pembaca di Indonesia secara top-down dan bottom up.

DA : Boleh diceritakan tentang ASKB/RSSUKB? Dan dari manakah ide ini bermula? (Pengertian, Visi, misi, strategi pelaksanaannya, tantangan, hambatan, dsb)
AI: Tentu. Sejak tahun 1961 seluruh keluarga Jepang mampu tinggal di kediaman masing-masing, baik itu-beli kredit atau menyewa. Di Jepang terdapat banyak standar permukiman layak untuk masing-masing strata keluarga, harga beli dan sewa terjangkau. Pemerintah menyediakan pula permukiman untuk golongan lemah.
Pemerintah Jepang memiliki kawasan permukiman sewa terpadu untuk keluarga muda, harga sewanya disesuaikan dengan gaji keluarga dan jumlah anak yang dimiliki. Jadi tidak memberatkan generasi muda yang baru berumah tangga. Kewajiban pemerintah Jepang sebagai fasilitator dan stabilisator character building sejak dini terwujud. Inovasi kualitas dan kuantitas adalah dinamisasi.

Mau beli kredit rumah atau seumur hidup mau menyewa, pemerintah punya stocknya.

Membeli tempat tinggal yang dibangun oleh swasta adalah pilihan terakhir. Di Jepang ini milik pemerintah lebih baik (fungsional) daripada milik swasta.

Setelah saya menikah , berturut-turut saudara/i saya menikah. Mbakyu saya dan adik-adik berhasil menyelesaikan kuliah, meskipun suami- isteri juga sarjana, di Indonesia tidak ada budaya menyewa melainkan mengontrak rumah membayar sekaligus setahun atau dua tahun, gaji mereka berdua tentu tidak cukup.
Solusinya adalah berdesak-desakkanlah tinggal bersama ibu kami atau berpindah beberapa saat ke rumah mertua menghindari ketegangan-ketegangan berkeluarga yang kemudian bermunculan.
Saya merasa beruntung berkeluarga di Jepang karena fasilitas tempat tinggal yang baik itu. Dan merasa lega pula, bahwasanya kelak putra-putra saya menikah saya tidak perlu memikirkan atau bahkan membelikan rumah untuk mereka. Hari tua kami bisa seperti para ayah-ibu Jepang yang putri/anya sudah mentas, saving nya dinikmati berdua dihari tua.

Semua ini sekarang menjadi kenyataan^^

Tahun 1985 saya mulai meluncurkan kiat-kiat membangun keluarga inspirasi dari Jepang sebagai, roh yang akan mendiami kawasan permukiman itu. Melalui penulisan, esai, feature perjalanan, cerpen, novel dan diwawancarai melalui telpon atau tertulis ke Tokyo. Bahkan menjadi cover story oleh banyak majalah dan muncul di halaman pertama beberapa koran Jakarta dan daerah.

Gongnya pada akhir tahun 1993 terbit wawancara saya dengan harian Kompas Jakarta, Anni Iwasaki ”Jepang Maju Karena Tidak Banyak Wanita Karir” Hasil wawancara itu menyentak nusantara khususnya para penganut emansipasi salah kaprah itu dari Sabang-Merauke (sebutannya saat itu kini Papua ). Sekaligus memberikan semangat kepada para ibu Indonesia yang konsisten menjadi ibu rumah tangga.

Sejak saat itu saya didaulat menjadi nara sumber di banyak seminar perguruan tinggi dan media masa. Disaat anak-anak di Jepang liburan sekolah, kami ke Indonesia. Serentetan acara seminar dan diskusi menunggu saya. Sayangnya tidak mendapat perhatian dari jalan Cendana hingga orba lengser.

Dari banyaknya respon positif dari tulisan-tulisan saya bahkan rekan saya di majalah Pertiwi mengatakan belum pernah ada antusias pembaca mengirim surat sebanyak yang saya terima. Hingga ada rekan penulis mengatakan ” Anni Iwasaki nge-bom lagi” ketika tulisan saya dirilis oleh media.

Tahun 1995, gagasan saya tentang rumah susun sewa untuk keluarga baru/RSSUKB saya luncurkan. Saat itu di Indonesia gerakan nasional pembangunan perumnas susun, kredit perumahan rakyat dan pembebasan tanah mulai disinyalir sebagai lahan korupsi.

Kembali saya menjadi nara sumber di seminar-seminar dan kelompok diskusi yang mengundang saya sebelumnya. Putra-putra saya semakin besar, suami jabatan di kantor semakin tinggi. Mereka lebih banyak meluangkan waktu di luar rumah, saya memiliki waktu lebih banyak untuk mempelajari dan menggali sain domestik ini dalam kaitannya dengan globalisasi politik- ekonomi dan sosial-budaya.

Kemudian rumah susun yang dibangun oleh pemerintah Indonesia. Selain kualitas bangunan dan kualitas perencanaan tidak fungsional, ahli permukiman Indonesia belum mengetahui dinamika-sosial penghuni. Merusak image rumah susun yang saya gagas. Maka saya ganti sebutannya menjadi Apartemen Sewa Untuk Keluarga Muda/ASKB. Sekarang saya sebut ”Kawasan Permukiman Sewa Terpadu Pembangunan Karakter Bangsa Sejak Dini Inspirasi Dari Jepang/KPSTPKBSDIDJ).

DA : Bagaimana cara Ibu mengubah paradigma / mindset masyarakat Indonesia yang tadinya belum terbuka hatinya untuk menerima / menerapkan ASKB/RSSUKB?
AI: Saya tidak merubah mindset mereka, melainkan mengenalkan gagasan baru yang lebih baik dan merupakan solusi dari kehidupan sulit yang sedang berlangsung.

Alhamdulillah pula, angka-angka kemajuan Jepang terus meningkat dan saya sendiri mendapatkan bonus berkali lipat sarana dan prasarana hidup yang dibangun semakin baik. Termasuk yang dirasakan oleh putra-putra kami saat ini.

Banyaknya respon positif yang masuk. Implementasinya ya harus langsung ke Presiden, hasil evaluasi sosialisasi saya kirimkan kepada Presiden Soeharto. Kemudian kepada presiden-presiden setelah itu hingga kepada Presiden SBY. Mendapat respon dari Kabinet Gotong-Royong pemerintahan Presiden Megawati, belum keburu tindak-lanjutnya pemerintahan berganti.

DA : Apa visi-misi dan obsesi Ibu setelah berhasil menjadi Presiden Pusjuki?
Gagasan Membangun Masyarakat Indonesia Ilmiah Teknologi dan Industri Green Tech Life Style (GTLS) Inspirasi dari (keberhasilan pembangunan masyarakat sipil) Jepang. Harus berhasil menjadi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN)-Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) Thn 2014-2019 dan berkesinambungan.

DA : Ibu pernah menjadi narasumber sosial budaya, ekonomi, politik diterbitkan oleh majalah Shukan Gendai, Koran persahabatan Jepang-RRC, Radio Tampa Tokyo, Nihon Kezai Shimbun-Nikei-Koran Ekonomi terbesar di dunia, TV Fuji, Siaran satelit TV NHK. Juga berbagai aktivitas lainnya yang begitu padat. Boleh tahu resep/kiat Ibu di dalam menjaga kesehatan?
Seperti yang saya sebut diatas yang utama saya tidak dikejar target dan tidak mengejar target. Dengan begitu saya tidak memendam rasa bersalah. Ibu rumah tangga Jepang tidak berperan ganda kita sangat enjoy life. Gaya hidup tanpa pesuruh rumah tangga, sarana dan prasarana irt yang terus membaik, cukup untuk mengembangkan kebutuhan berkembangnya intelektual dan gerak badan saya sehari-hari. Suami sangat bertanggung jawab memenuhi kebutuhan hidup. Gaya hidup sehat dan pola makan sehat telah menjadi budaya dalam masyarakat Jepang Moderen ini.

Lagi, awal tahun 2010 ini bangsa Jepang memegang rekor tertinggi PBB sebagai bangsa tersejahtera dan memiliki harapan hidup terlama, dan ibu Jepang memegang rekor pemilik harapan hidup terlama dunia.

DA : Boleh tahu rahasia Ibu menguasai banyak hal, menjadi multitalenta, dan menjadi “Supermother” yang multitasking?
Di Jepang pekerjaan ibu rumah itu sendiri adalah sumber inspirasi ilmu pengetahuan pembangunan kualitas dan kuantitas manusia Jepang Modern. Sekaligus sumber inspirasi meningkatkan kualitas dan volume produk domestik Jepang. Sain dan teknologi: dapur, sumur (air) , kasur, manak, masak, macak Jepang adalah industri kualitas nomer satu di dunia.^^

Di Jepang terdapat hampir seratus perguruan tinggi domestik, disana disebut tandai ; kolese wanita junior D3 dan joshii-dai perguruan tinggi wanita 4 tahun.

Sekolah Kepandaian Putri yang telah dibubarkan itu seharusnya berlanjut kepada perguruan wanita sain domestik ini.

Facebook: anni iwasaki.
foto: dokumen pribadi Anni Iwasaki
Curiculum Vitae
Nama Lahir : Chaeriyani
Nama Populer : Anni Iwasaki
Jabatan Hidup: Ibu Rumah Tangga
Kelahiran : Desa Tanjung Tani, Prambon, Kediri, 25 April 1953
Agama : Islam
Kewarganegaraan : Indonesia
Pendidikan :
• SD Sawahan II & SD Simpang II (Berijazah)
• SMP 3 Surabaya (Berijazah)
• SMA Trimurti Surabaya (Selesai tahun 1972);(Berijazah)
• Lembaga Pendidikan Jurnalistik Interstudi Jakarta, 1985 (6Bulan);(Berijazah)
• Pendidikan Bahasa Jepang Kokusai Kaiwa Gakuin-Tokyo, 1992 (2tahun);(Berijazah)
• April 1997 menjadi Mahasiswa pendengar di Fak. Hubungan International ekonomi dan Fakultas Sastra Jepang Universitas Tama, Tokyo (Satu Tahun Kuliah).
• September 25, 2004, dianugerahi Doctor Honoris Causa Oleh Saint John Institute Of Management Science, Houston, Texas, USA.
• Terpilih dalam urutan nomer 2 dalam buku “30 Perempuan Pilihan Wanita Penulis Indonesia” penerbit Zikrul Hakim (Anggauta IKAPI) Jkt. www.zikrul.com. Launching 16 April 2010 di TIM Jakarta.

Related Posts with Thumbnails
 

SEO LINK

Increase Page Rank EasyHits4U.com - Your Free Traffic Exchange - 1:1 Exchange Ratio, 5-Tier Referral Program. FREE Advertising!

Site Info

Blog ini memuat berbagai motivasi baik itu dari tulisan maupun video dan lainnya. Terinspirasi dari tokoh-tokoh yang memiliki tinta emas dalam perjuangannya mengarungi hidup. Semoga ALLAH SWT memberikan kita petunjuk menjadi yang lebih baik. Bermanfaat dan berguna bagi masyarakat sehingga hidup kita menjadi berkah.

Followers

MOTIVASI HIDUP BERKAH Copyright © 2009-2011. Managed by Masnatel Indonesia.
Designed by Bie Blogger Template